Kami berangkat dari berbagai titik. Tim Boi, Zahro, Gunawan dan rekan dari Boi berangkat dari Solo ke Lawang naik bis pada tanggal 27 Juli 2018. Sedangkan tim Rama dan rekan dari Rama berangkat dari Pasuruan ke rumah Mia yang berada di Malang menggunakan sepeda motor.

Sesampainya di Pasar Lawang, kami membeli logistik terlebih dahulu lalu malamnya menginap di Basecamp Lawang sambil menunggu rombongan dari Malang. Keesokan harinya rombongan Malang berangkat ke Lawang dan berkumpul di Basecamp Lawang. Kami melengkapi logistik serta beberapa peralatan pendakian yang masih kurang.

Sabtu, 28 Juli 2018, kami memulai perjalanan pada pukul 09.35 WIB. Jalur yang kami lalui adalah hamparan kebun teh yang cukup luas. Banyak percabangan sehingga pendaki rawan tersesat di sini. Saran kami tetap fokus melihat plang yang bertuliskan “Puncak Arjuna” yang biasanya banyak tertempel di pohon-pohon dan berwarna-warni.

Setelah itu kita akan masuk Jalur Makadam yang cukup lebar dan sangat panjang. Jalur ini pun sangat menanjak. Satu jam berjalan, kami sampai di Brak 1. Kami istirahat selama sekitar lima belas menit. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Brak 2.

Jalur yang dilalui masih sama. Kami tidak menemukan shelter seperti di Brak 1, namun hanya bekas reruntuhan bangunan seng yang kami simpulkan bahwa itulah Brak 2. Kami tiba di Brak 2 pada pukul 10.55 WIB, lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 2 Lincing.

Perjalanan awal melewati jalan lurus yang sangat menanjak. Kini jalur pendakian sudah bukan melewati perkebunan teh namun sudah berganti dengan berbagai tanaman kebun milik warga.

Setelah itu kami mulai memasuki Hutan Kaliandra. Hutan ini akan menemani perjalanan kami hingga menuju sabana. Jalur nya tidak begitu menanjak dibandingkan perjalanan awal tadi. Beberapa menit berjalan, hutan mulai terbuka dan itulah tanda bahwa kami masuk ke kawasan Sabana Lincing.

Tepat pukul 12.52 WIB kami tiba di Pos 2 Lincing. Di Pos 2 ini terdapat shelter dan sebuah tanah lapang yang bisa digunakan sebagai lokasi camp. Setelah itu kami makan siang dengan menu telur, mi, dan nasi yang dibawa dari rumah. Setelah makan, kami membagi tugas untuk mengambil air.

Kami sempat bingung mencari jalur menuju sumber air dan hanya berputar-putar selama tiga puluh menit. Setelah melihat adanya plang bertuliskan sumber air kami langsung menuju sumber air dengan naik turun dua bukit serta harus menuruni jurang untuk mengambil air. Air di sini kurang bersih dan sedikit berbau amis.

Setelah semua selesai dan kembali packing, pukul 14.35 WIB kami berangkat ke Pos 3 Mahapena. Kami memutuskan untuk lewat jalur alternatif yaitu Lincing.
Untuk menuju Jalur Lincing kami mengambil jalur kiri dari Pos 2. Setelah itu akan melewati sungai yang sudah kering dan langsung menanjak menaiki Bukit Lincing.

Tanjakan cukup curam serta jalur yang sempit dengan kanan kiri jurang. Namun pemandangan dari atas sini sangatlah indah. Hamparan kebun teh serta sabana begitu memanjakan mata.

Setelah kurang lebih tiga jam berjalan, akhirnya kami tiba di Pos 3. Tidak tersedia lahan yang cukup luas, mungkin hanya muat dua sampai tiga tenda saja. Tidak beristirahat terlalu lama, kami pun segera melanjutkan perjalanan ke Pos 4 agar tidak terlalu malam di jalan.

Trek kali ini kembali masuk ke hutan lagi. Tidak ada jalan landai sepanjang perjalanan, terutama dari Pos 3 menuju Pos 4. Kami memutuskan untuk mendirikan camp di Pos 4. Kami bergegas tidur agar keesokan harinya dapat melanjutkan perjalanan dan dapat summit attack ke Puncak Ogal-Agil.

Kami bangun pukul 05.30 WIB. Dari Pos 4 nampak Puncak Ogal-Agil begitu jelas dan nampak gagah. Kami memasak untuk sarapan. Kami mulai berangkat ke puncak pukul 07.45 WIB.

Jalur menuju puncak sangatlah menanjak dan hampir tidak ada bonus. Kami pun melewati Alas Lali Jiwo yang cukup legendaris. Setelah itu kami memasuki kawasan Cemoro Sewu yang ditandai dengan hutan cemara yang cukup lebat.

Tak berselang beberapa lama, kami sampai di pertigaan antara Jalur Lawang dan Jalur Purwosari. Dari sini puncak kurang lebih masih satu jam perjalanan. Vegetasi pun sudah mulai berubah menjadi hamparan edelweiss dan cantigi khas tanaman ketinggian.

Pukul 11.55 WIB kami tiba di Puncak Ogal-Agil Gunung Arjuno. Pemandangan di puncak cenderung cerah berkabut walau sesekali kabut pergi. Dari puncak nampak pemandangan Laut Utara Jawa, Pulau Madura, Gunung Penanggungan, Gunung Semeru, Gunung Raung, dan nampak pula Gunung Argopuro.

Puncak Arjuno sendiri hanya berupa tumpukan batu batu besar yang jika sekilas dilihat seperti akan jatuh jika tertiup angin, maka dari itu dinamakan Puncak Ogal-Agil.

Kala itu matahari bersinar cukup terik dan membakar kulit kami. Kami mengabadikan foto selama kurang lebih satu jam di puncak. Pukul 13.00 WIB kami melanjutkan perjalanan ke Pondokan.

Trek pertama kami harus menaiki satu bukit lalu sampailah ke Pasar Dieng yang terkenal angker. Di sini terdapat beberapa makam. Setelah itu trek kembali turun lalu naik lagi dan kita akan menemukan patok perbatasan Malang-Pasuruan.

Jalur menuju Pondokan cukup curam dan ketika mendekati Lembah Kidang, jalur berubah menjadi tumpukan batu besar. Tidak terbayang bagaimana jika mendaki Arjuno via Tretes.

Pukul 15.45 WIB akhirnya kami sampai di Lembah Kidang. Kami beristirahat di sumber air dan itu merupakan sumber air pertama yang kami temui semenjak dari Pos 2 Lincing. Lalu kami mendirikan camp di Lembah Kidang karena hari sudah gelap.

Baru besoknya ada beberapa yang ke Gunung Welirang dan ada yang menjaga tenda. Perjalanan kali ini, kami berlima naik ke Gunung Welirang yaitu Boi, Gunawan, rekan Boi, Zahro dan Rama yang menyusul. Sedangkan yang menjaga tenda ada Mia dan rekan Rama.

Untuk menuju ke Gunung Welirang berjalan selama lima belas menit dari Lembah Kidang lalu sampailah kami di Pondokan. Pukul 07.00 kami berlima memulai perjalanan.

Jalur nya cukup menanjak dan menguras tenaga di awal. Selepas itu jalur landai, dan kembali menanjak. Lalu kami sampai di Taman Dewa, yaitu tempat lapang antara Gunung Kembar 1 dan Gunung Welirang.

Perjalanan dilanjutkan dengan memutari sisi Gunung Welirang sebelah barat. Dari sini tampak pemandangan Gunung Kelud beserta pemandangan perkebunan di Cangar.

Tidak berselang lama kami tiba di Goa Sriti, sebuah goa yang dekat dengan Puncak Welirang. Angin cukup kencang dan begitu dingin. Tepat pukul 10.00 WIB kami tiba di Puncak Welirang. Walau cuaca cukup terik dan tidak ada awan, udara sangat dingin karena angin sangat kencang.

Pukul 11.00 WIB kami kembali ke Goa Sriti. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Pondokan. Perjalanan kali ini lebih cepat dari berangkat tadi dan pukul 13.00 WIB kami sudah tiba di Pondokan. Setelah itu kami memasak nasi. Kami menghabiskan logistik yang tersisa.

Setelah packing kami memulai perjalanan turun pukul 14.00 WIB. Jalan turun cukup curam dan berupa Jalan Makadam bebatuan yang goyah ketika dipijak. Apalagi ketika melewati “Tanjakan Asu” yang semakin membuat lutut kami meronta-ronta. Langkah harus hati-hati agar tidak keseleo.

Kami berjalan cepat dan cenderung berlari menuju Kopkopan. Sore hari kami sampai di Kopkopan. Cukup sepi dan hanya ada beberapa pendaki yang turun saja. Di sini kami beristirahat dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Basecamp Tretes pada pukul 16.47 WIB.

Jalur masih tetap berbatu namun lebih tertutup karena kami memasuki kawasan hutan lagi. Kami banyak menemukan jalur potong dan menggunakannya selama jalur utama masih terlihat. Kaki-kaki pun mulai terasa sakit, mungkin karena terlalu lama beristirahat di Kopkopan tadi.

Setelah satu jam berjalan, kami melihat ada atap sebuah bangunan. Kami pun lega setelah tiga hari akhirnya sampai juga di peradaban. Bangunan tersebut adalah semacam Pos Perizinan di atas Pos Pet Bocor.

Setelah sampai Pet Bocor, jalan berubah menjadi jalan semen. Kami pun tiba di basecamp pukul 20.00 WIB. Setelah itu kami naik angkot menuju ke terminal dan naik bis dengan tujuan Malang.

Sampai di Malang kami naik angkot lagi menuju ke rumahnya Mia. Lalu sampai di rumah Mia, kami membersihkan diri lalu beristirahat dan makan bakso malang. Hari selanjutnya kami liburan ke Kota Batu terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah masing-masing.


Disunting oleh: Naurah Aletha (V.XXIX.012)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.