CATATAN PERJALANAN GUNUNG BINAIYA 3.027 MDPL

PROLOG

Pendakian ini sebagai salah satu rangkaian ekspedisi 7 summits Indonesia PMPA (Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam) VAGUS. Dimana tahun ini tahun 2016 PMPA VAGUS meng”agenda”kan 3 puncak dari 7 puncak di kepulauan Nusantara dan kami memilih Gunung Binaiya di kepulauan Maluku sebagai destinasi perjalanan kami. Kami beranggotakan Midyana (Diksar 23), Tegar (Diksar 26), Nadira (Diksar 25) dan Hade (Diksar 22).

Senin, 25 Juli 2015

Perjalanan kami di mulai dari Surabaya (Titik Point Pertama) tepatnya di Bandara Djuanda dengan menggunakan maskapai Lion Air yang   mana transit terlebih dahulu di Makassar. Sesampainya di ambon pukul 06.00 WIT, kami di jemput oleh teman kami yang bernama kak cika di bandara, lalu kami di berikan tumpangan di rumahnya di daerah Kebon Cengkeh, Kota Ambon. Karena suatu hal, kami harus melanjutkan perjalanan di hari berikutnya sembari menyiapkan logistik, fisik dan mental kami.

Selasa, 26 Juli 2016

Pada hari ini kami masih mempersiapkan logistik dan lebih mematangkan rencana perjalanan kami yang rencananya akan mulai berangkat pada keesokan harinya. Kami juga melakukan kunjungan di beberapa KPA (Komunitas Pecinta Alam) di Ambon, sekaligus menggali informasi terkait dengan gunung binaiya, gunung yang akan kami tuju sebagai salah satu puncak yang mewakili 7 Summits Expedition Indonesia. Salah satunya kami berkunjung ke “basecamp” KPA JALASTA yang merupakan singkatan dari “Komunitas Pecinta Alam Jejak Langkah Anak Semesta”. KPA Jalasta ini adalah KPA yang diikuti oleh Kak Cika. Banyak sekali yang kami dapatkan saat kami bersilahturahmi dengan KPA Ambon seperti Adat Istiadat, Sejarah, Sifat dan Sikap orang Ambon terutama karena kami baru pertama kali menyinggahi Indonesia di wilayah Timur tersebut.

Setelah kami berbincang- bincang dengan KPA Ambon, kami pun di ajak dengan kak cika mengelilingi kota Ambon hingga malam hari dan mengabadikan momen – momen di kota Ambon.

jalan2-ambon

Jalan-jalan di Kota Ambon

Rabu, 27 Juli 2016

Hari ini kami memutuskan untuk memulai perjalanan menuju Pulau Seram. Pulau dimana Gunung Binaiya, gunung tujuan ekspedisi kami berada. Kami berangkat dari kebon cengkeh pukul 07.15 WIT. Perjalanan dari kebon cengkeh ke pelabuhan tulehu kami tempuh dengan menggunakan mobil dari rekan ayahnya Nadira. Sesampainya di Tulehu, kami langsung memesan tiket dan segera masuk ke kapal cepat. Kapal cepat “Cantika Express” mulai bertolak dari Tulehu pukul 08.10 WIT. Sekitar jam 11 kami sampai di Pelabuhan Amahai, Kota Masohi, Pulau Seram. Hujan menyambut kami saat tiba di Pulau Seram. Sekitar 1 jam kami menunggu angkot yang akan mengantarkan kami ke Yaputih. Sekitar jam 12 kami baru bisa beranjak dari amahai. Tujuan kita selanjutnya adalah Masohi, kami makan siang dan juga berbelanja logistik makanan yang akan kami bawa nantinya di pasar Masohi. Kemudian perjalanan kami lanjutkan kembali pukul 13.54, hingga kami tiba di sungai kawanua, Tehoru pada pukul 16.08. Kebetulan sekali sungai kawanua sedang tidak bersahabat saat itu, sungai sedang meluap, sehingga mobil tidak bisa melewati sungai. Kami menyebrang menggunakan rakit/katinting atau orang lokal menyebutnya dengan “Parau Semang” yang hanya bisa mengantarkan 2 orang sekali perjalanan, sehingga kami harus bergantian di antar menggunakan rakit tersebut. Sekitar pukul 6 sore kami semua baru selesai menyebrangi sungai yang cukup menegangkan. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju desa yaputih.

sungai-kawanua

Team tiba di sungai kawanua

sungai-kawanua-2

Kondisi sungai Kawanua yang sedang meluap

Karena hari sudah malam, kami memutuskan untuk bermalam terlebih dahulu di desa yaputih, kami bermalam di rumah bang ikhsan, penduduk asli yaputih.

Kamis, 28 Juli 2016

Keesokan harinya, pukul 06.15 WIT kami bangun dimana suasana masih sangat gelap, ditemani hujan, dan cuaca yang dingin. Kami mulai packing dan memulai perjalanan kami yang di awali dengan berdoa. Pendakian Gunung Binaiya ini kami ditemani oleh beberapa kawan kami dari Ambon dan mereka semua berasal dari berbagai KPA di Ambon. Pertama adalah bang ikhsan, beliau menuntut ilmu di Universitas IAIN kota Ambon dengan jurusan Jurnalis. Sifat khasnya adalah pendiam dan mengayomi. Kedua adalah teman dekat bang ikhsan (teman kuliah, teman kos, dan tetangga rumah), laki laki ini yang ter”kadang” lucu sering disapa dengan bang wandi. Bang Ikhsan dan bang wandi tergabung di KPA Elang Rimba Ambon. Yang ketiga adalah wanita tomboy yang memberikan kami tumpangan tempat tinggal di kota Ambon sering disapa dengan caca cika (caca : sapaan kakak wanita di Ambon). Caca cika merupakan anggota dari KPA Jalasta Ambon. Keempat adalah Bang Miji saudara dari caca cika yang menuntut ilmu di Makassar tetapi asli orang Ambon, Bang Miji adalah anggota dari KPA PAHI, dan yang terakhir adalah Bang Bob yang mana adalah sepupu dari bang ikhsan dan mengikuti KPA Jamaika.

Perjalanan kami di temani oleh hujan semenjak keluar dari rumah bang ikhsan pada pukul 08.18 WIT. Gunung Binaiya sejatinya mempunyai tinggi yang tidak setinggi gunung-gunung yang terdaftar di “7 Summits Indonesia” lainnya, dengan tinggi 3.027 MDPL gunung ini merupakan gunung tertinggi di kepulauan Maluku dan sekitarnya. Pendakian di gunung ini juga berbeda dibanding biasanya karena start pendakian dilakukan dari mulai 0 mdpl tidak seperti gunung-gunung lain yang mungkin start pendakian dilakukan dari ketinggian 1000/2000 mdpl. Perjalanan kami mulai tepat dari kawasan pesisir pantai yang merupakan 0 mdpl dan mulai naik menapaki bukit. Pada saat perjalanan, kanan dan kiri kami merupakan kebun coklat dan kebun cengkeh, sehingga kadang kami memetiknya untuk sekedar mengganjal lapar. Setelah perjalanan kami berhenti di sebuah gubuk, dari situ kami bisa melihat desa yaputih dan juga pantai yaputih yang indah walau disertai hujan. Kami melanjutkan perjalanan kembali, dari yaputih sampai ayemoto, perjalanan masih ditemani oleh tanah biasa dan juga hutan-hutan tropis seperti biasanya, namun perjalanan kali ini di mulai dari 0 mdpl memang sudah di temani dengan pohon – pohon yang berduri yang mana di hari pertama kami sudah disuguhi tangan yang lecet akibat duri pepohonan. Medan selama perjalanan terkadang datar namun banyak juga tanjakan-tanjakan yang cukup tajam. Pos ayemoto merupakan pos terjauh, sehingga kami sampai di shelter ayemoto pukul setengah 8 malam. Sebelum sampai di Pos Ayemoto terdapat sungai genangan air yang cukup menyegarkan, bisa sebagai tempat kami membersihkan badan maupun untuk menyegarkan tenggorokan. Kami beristirahat di shelter ayemoto. Shelter ini adalah shelter yang paling nyaman di karenakan dekat dengan sumber air tadi dan cukup luas untuk di huni kami bersembilan orang. Kami tidak perlu mendirikan tenda di karenakan sudah disediakan sepetak pos yang cukup hangat dengan beralaskan matras dan berselimut sleeping bag.

Jum’at, 29 Juli 2016

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan, jalan sudah dipenuhi oleh lumut, kantong semar, rotan, dan juga pohon-pohon kayu pendek. Kami sudah mulai   jalan di atas batu yang tertutup oleh lumut. Jalanan mulai licin dan hujan tak kunjung berhenti, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan perjalanan pada pukul 09.27 WIT. Dengan badan masih ditutupi jas hujan kami pun berjalan setapak demi setapak, pos selanjutnya yang kami tuju adalah pos Isilali. Untuk menuju pos Isilali dari Pos Ayemoto harus terlebih dahulu melewati Dataran Aiulanusalai, Puncak Teleuna, Highcamp, Puncak Manukupa dan barulah sampai di Pos Isilali. Sekitar pukul 10.30 WIT kami sampai di dataran Aiulanusalai, vegetasi disana sudah mulai jamur, lumut, rotan, pohon berkayu dan jenis paku-pakuan. Kami memutuskan untuk istirahat selama 10 menit. Kemudian kami melanjutkan perjalanan, medan sudah memasuki daerah tebing berbatu dengan jalan setapak yang mulai menyempit dimana hanya bisa dilewati sekitar 2 orang bersamaan dan diikuti tanjakan tajam hingga akhirnya sampai di puncak Teleuna pukul 12.58 WIT. Kami hanya beristirahat sebentar lalu langsung melanjutkan menuju Highcamp dimana hujan masih cukup deras dengan jalanan dipenuhi lumut dan kantung semar di sepanjang kanan dan kiri jalan. Untuk sampai ke Highcamp ada sekitar naik turun bukit sebanyak 3 kali yang sempat membuat kami sedikit putus asa ditambah hujan yang terus menemani. Sekitar pukul 15.00 WIT kami sampai di Highcamp. Dikarenakan cuaca yang tidak mendukung yaitu sama sekali tidak kami temukan sinar matahari pada hari itu dan kawan kami ada yang mengalami hipotermia. Kami tidak berani mengambil risiko jika tetap melanjutkan perjalanan di karenakan hari sudah mulai sore dan kami menghindari hal – hal yang tidak di inginkan.

pos-highcamp

Pos Highcamp

Kami akhirnya memutuskan untuk menetap di shelter Highcamp sembari merawat teman kami bang Bob yang mengalami hipotermia itu, kami segera berganti pakaian supaya kami tidak mengalami hipotermia. Setelah bang Bob sudah merasa baikan kami pun segera menyiapkan makanan dan istirahat. Hujan pun hari itu tak kunjung berhenti.

Sabtu, 30 Juli 2016

Perjalanan di mulai pukul 09.42 WIT, Hujan pun sudah berhenti namun matahari juga tidak menampakkan sinarnya, langit masih saja di selimuti awan mendung. Perjalanan hari ini kami targetkan untuk sampai di nasapeha, dimana disana terdapat sumber air (genangan air). Perjalanan dari Highcamp menuju ke puncak manukupa dengan medan tanjakan yang cukup tajam dan diselingi jalan bebatuan di kanan kiri tebing. Kami melewati Puncak Manukupa terlebih dahulu pada pukul 12.18 WIT yang sudah mulai tertutup kabut, hingga akhirnya kami sampai dan istirahat di pos Isilali pada pukul 13.00 WIT. Kami istirahat melonggarkan carrier sambil membuka makanan ringan untuk sekedar mengganjal perut kami. Setelah istirahat sejenak kami pun melanjutkan perjalanan pada pukul 13.30 WIT, jalur dari pos Isilali menuju puncak bintang merupakan perjalanan yang ekstrem, karena jalan sudah didominasi naik turun bukit berbatu serta kami banyak melewati tebing disitu. Gerimis pun datang, kami segera mengenakan jas hujan. Pakaian dinas alias pakaian lapangan yang selalu kami gunakan adalah pakaian yang sudah basah ditambah dengan jas hujan, namun kami sangat menikmati perjalanan ini perjalanan yang berbeda dengan gunung lainnya yang pernah kami daki di wilayah pulau jawa. Di mulai dari jalur, cuaca maupun vegetasi yang sangat berbeda dengan gunung lainnya. Banyak hal-hal baru yang kami temui disini, pelajaran yang tidak kami perhatikan pada saat naik gunung lainnya disini kami mendapatkan itu semua.

puncak-manukupa

Puncak Manukupa

Waktu menunjukan pukul 16.30 WIT, hujan pun semakin deras angin pun bertambah kencang. Kami memutuskan untuk beristirahat mengisi energi sambil membicarakan perjalanan ini, karena di khawatirkan melewati tebing puncak bintang sudah terlalu larut dan terlalu bahaya jika cuaca tetap tidak berubah. Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di puncak bintang. Pukul 18.20 WIT kami pun tiba di Puncak Bintang, Puncak Bintang ini tidak ada shelter maka dari itu kami harus mendirikan   tenda   dengan segera. Disini   pertama kalinya kami   bermalam dengan menggunakan tenda.

Tenda pun sudah berdiri, kami segera berganti baju dan memasak makanan. Hujan pun reda, namun angin masih menyelimuti malam itu. Kami pun segera bergegas untuk istirahat supaya esok hari kami dapat melanjutkan dengan kondisi fisik yang lebih baik.

Minggu, 31 Juli 2016

Pagi hari kali ini cuaca cukup cerah, kami pun dapat mengabadikan foto di puncak bintang. Memang benar terlihat indah punggungan dari gunung Binaiya, kami pun merasakan hangatnya sinar matahari dan segera bergegas untuk menjemur pakaian kami yang basah karena hujan dari awal pendakian. Tak lupa kami pun memasak untuk mengisi energi pendakian hari itu sembari menunggu yang lain packing.   Kami pun bertemu dengan rombongan pendaki lain juga yang baru turun dari puncak, mereka adalah rombongan dari Malang. Tak disangka setelah beberapa hari berjalan dengan tim kami dan kami menemukan rombongan lain, dan rombongan tersebut berasal dari pulau jawa. Setelah berbincang – bincang, mereka berpamitan untuk turun dan kami pun harus juga melanjutkan perjalanan.

dari-puncak-bintang

Penampakan Alam dari Puncak Bintang

Berjalan dari puncak bintang menuju ke Nasapeha adalah hal yang cukup menegangkan karena medan yang cukup ekstrem, jalur yang kami lewati kanan dan kirinya jurang disertai batuan yang lepas. Setelah melewati Tebing dari Puncak Bintang kami pun bergegas untuk melanjutkan perjalanan yang bervegetasi lumut dan hutan, tak jauh dari situ kami pun tiba di Nasapeha. Di pos Nasapeha merupakan dataran seperti lembah yang dikelilingi oleh bukit-bukit, sehingga sering dijadikan shelter tempat menginap oleh beberapa pendaki terlihat dari tumpukan sampah-sampah masakan yang terkumpul disana. Di Nasapeha juga terdapat genangan air sehingga beberapa dari kami ada yang mengambil air untuk bahan perbekalan dan beberapa ada yang mencuci muka untuk sekedar menyegarkan badan untuk melanjutkan perjalanan. Kami beristirahat sejenak disana dan akhirnya melanjutkan perjalanan pada pukul 12.22 WIT. Lepas dari pos Nasapeha pun kami ditemani hujan dan angin lagi, rasa dingin dan basah mulai menggerogoti badan. Dari Nasapeha sampai wayfuku masih sama vegetasinya, hanya saja saat mau sampai wayfuku, jalan sedikit landai dan ditemui pohon-pohon paku yang tinggi. Sangat terlihat sekali perjalanan paling khas di Gunung Binaiya ini adalah batuan karst yang terbentuk dari ribuan tahun silam.

pos-3-nasapeha

Pos III (Nasapeha)

Setelah melewati jalur yang menelusuri punggungan dengan batuan karst yang khas itu sekitar 4 jam, akhirnya kami tiba di camp terakhir atau sering disebut Wayfuku. Konon disini jika setelah musim hujan ada genangan dan genangan tersebut sering di hampiri oleh rusa untuk sekedar minum, tapi cukup terlihat di beberapa area kami menemukan kotoran dari hewan – hewan yang menguni disana.

wayfuku-sore-hari

Penampakan Wayfuku pada sore hari

Kami pun segera bergegas untuk mendirikan tenda sebelum hari gelap, sambil membuat air teh hangat dan kopi untuk sekedar menghangatkan badan. Kami pun dapat melihat puncak binaiya yang semakin dekat dengan kami. Harapan yang ditunggu – tunggu setelah beberapa hari berjalan menopang beban di pundak, tinggal selangkah lagi kami tiba di puncak. Kami bercengkrama di dalam tenda sembari memasak bercerita semuanya di dalam tenda itu dan akhirnya kami pun terlelap di kegelapan malam itu.

Senin, 1 Agustus 2016

Puncak ada di atas Camp Wayfuku, perjalanan memakan waktu sekitar 10 menit. Kami pun bangun lebih awal untuk berburu sunrise, untung saja hari itu cerah. Betapa bersyukurnya kami di karenakan setelah beberapa hari menerjang hujan. Kami segera bergegas berganti pakaian membawa perlengkapan dokumentasi, di sebrang tenda sudah ramai bang ikhsan bang miji bang wandi dan kak cika untuk mengajak ke puncak. Kami pun berjalan setapak demi setapak dan FINALLY…. kami menginjakkan kaki di ketinggian 3027 mdpl, tanah tertinggi di kepulauan Mollucas (Maluku) . Yang mana setelah 4 hari kami berjalan menelusuri hutan dan tebing. Kami dapat menjalankan amanah yang telah di berikan PMPA VAGUS kepada kami, membawa bendera PMPA VAGUS ke salah satu puncak tertinggi di Indonesia, tak henti hentinya kami mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena tanpa Nya kami tidak dapat berpijak di tanah tertinggi ini. Kami segera mendokumentasikan segalanya, mengabadikan moment moment yang jarang ini. Tak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada semua orang yang mendukung acara ini dan mensupport acara ini, terutama pada kawan – kawan kami yang telah mengantarkan kami sampai puncak Binaiya. Sekitar 3 jam kami menikmati pemandangan di Puncak Binaiya, terlihat sekali laut Kepulauan Maluku, Kota Maluku, Sunrise.

puncak-binaiya

Puncak Binaiya 3.027 mdpl – Pulau Seram

tim-7summits

Tim 7 Summits foto di Puncak Binaiya

tim-7-summits-binaiya-bendera

Tim tiba di puncak Binaiya 3.027 mdpl

foto-rame2-binaiya

Bersama teman perjalanan selama di Gn. Binaiya

 

Setelah puas berfoto-foto kami pun mulai turun ke camp dan segera masak untuk makan pagi sekaligus makan siang dan bergegas packing dikarenakan gerimis pun mulai tiba. Pukul 12.58 WIT kami mulai turun, dan sampai di nasapeha sekitar jam 14.41 WIT. Tenaga kami sudah mulai berkurang, karena keterbatasan logistik yang kami bawa. Beberapa dari kami juga sudah mengalami sakit pada kaki, ada yang lecet maupun kram, sehingga perjalanan membutuhkan waktu sedikit lebih lama. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju puncak bintang, dan sampai puncak bintang pukul 15.47 WIT. Kami istirahat sebentar di puncak bintang, dan beberapa menit kemudian kami melanjutkan perjalanan dan tiba di Camp isilali pukul 18.32 WIT, lalu kami pun bermalam di isilali.

camp-isilali

Camp Isilali

Kami mendapatkan musibah, yaitu kutu air. Ya, perjalanan yang di temani hujan selama 5 hari ini membuat kaki kami selalu lembab dan juga kotor, sebagian dari kami terkena kutu air di kakinya, bahkan sampai edema (bengkak) dan infeksi karena sudah semakin parah kondisinya. Di malam itu, Bang Ikhsan langsung merebus air panas yang dicampur dengan garam dan mengompres kaki-kaki korban kutu air agar kutu segera mati dan kaki terasa lebih baik. Bang Ikhsan memang sudah ahli untuk masalah “per-gunungan”.

kaki-kaki-kutu-air

Kaki yang terkena kutu air

Selasa, 2 Agustus 2016

Pagi harinya kami berangkat pukul 12.52 WIT, kami lambat dalam packing karena masalah kutu air tadi. Tapi tekad kami yang mengantarkan kami untuk tetap berjalan pulang menyelesaikan misi ekspedisi ini. Sesampainya puncak manukupa pukul 13.40 WIT, kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai shelter highcamp pukul 15.32 WIT. Tak lama beristirahat di Highcamp kemudian kami langsung melanjutkan perjalanan menuju puncak teleuna karena ditakutkan hari mulai gelap, kami sampai puncak teleuna pukul 17.22 WIT. Rasanya kami mengalami kejenuhan disini, selain karena jalan yang membuat kami stress, ditambah sakit di kaki, kami juga mengalami kekurangan logistik makanan, perjalanan dari puncak teleuna sampai ayemoto ini hampir membuat kami putus asa, tetapi berkat apa yang telah kami persiapkan selama latihan, kami tetap melanjutkan perjalanan sembari berfoto-foto dan bernyanyi untuk menghilangkan rasa jenuh.

rasa-jenuh-turun-gunung

Menghindari rasa jenuh saat turun gunung

Sekitar pukul 20.30 WIT kami pun tiba di pos ayemoto, kami bermalam di ayemoto. Pada malam harinya, kami sekiranya ingin bermalam di ayemoto lagi karena rasa capek yang kami rasakan, dan juga kutu air yang semakin memperparah keadaan kaki kami, untuk berjalan saja susah, apalagi dengan menggendong carrier yang basah. Pada malam harinya kami mengompres kaki kami lagi dengan air panas, dan berharap kaki kami beranjak lebih baik esok hari.

Rabu, 3 Agustus 2016

Rasa lelah yang menyelimuti, disulut oleh sedikit semangat untuk segera pulang, 6 hari di hutan ternyata akan sangat berat apabila kita mendapatkan musibah didalamnya. Pagi itu kami menghabiskan sisa logistik yang kami punya, dapat dibilang “makan besar” karena ditargetkan hari ini juga kami akan langsung pulang sampai ke desa yaputih. Beberapa dari kami ada yang memasak, sebagian packing untuk persiapan pulang, sebagian lagi ada yang mengurusi kaki-nya. Kami berangkat dari ayemoto pukul 13.22 WIT, ini merupakan perjalanan penghabisan yang menurut kami sangat melelahkan dan disisi lain sangat memuaskan, karena selain itu kami merasa bahwa kami bisa mengibarkan bendera PMPA VAGUS di puncak tertinggi di kepulauan Maluku. Dan kamipun sampai di Yaputih pukul 21.00 WIT, kami sudah ditunggu oleh keluarga bang Ikhsan yang sudah menunggu dengan sangat khawatir karena keterlambatan kami saat pulang. Tak lupa juga kami mengabarkan tim support PMPA VAGUS yang berada di Solo bahwa kami sudah sampai dengan selamat di Desa Yaputih.

pos-1-ayemoto

Masak-masak di pos 1 ayemoto

Kami di sambut dengan hangat di kediaman rumah bang Ikhsan, disuguhi berbagai makanan ringan dan berat. Dengan segera kami membersihkan badan di pantai karena rumah bang ikhsan dekat sekali dengan pantai. Setelah bersih – bersih kami pun masuk ke dalam rumah bang ikhsan untuk bermalam di rumah yang hangat itu.

Kamis, 4 Agustus 2016

Hujan pun datang kembali, rasanya enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Rasa lelah yang kami rasakan selama pendakian 7 hari di gunung Binaiya tersebut menumpuk di badan kami. Ternyata keluarga bang ikhsan sudah menyiapkan sarapan dan teh hangat, sembari bersarapan bercanda kami pun terkadang mengingat pendakian. Masih terbesit dipikiran karena kami sudah melakukan pendakian selama 7 hari, melawan cuaca yang selalu hujan, jalur tanjakan dan turunan yang cukup terjal dan kebiasaan kebiasaan kami selama di gunung seperti rutinitas sehari-hari.

Kami pun di obati dengan keluarga bang ikhsan, karena kaki kami tak kunjung pulih. Rasa perih dan sakit terasa di telapak kaki saat menginjak bumi. Pengalaman yang cukup luar biasa kami dapatkan di perjalanan kali ini. Jam menunjukkan pukul 11.00 WIT, kami pun bergegas untuk packing di karenakan takut tertinggal oleh kapal cepat. Sebelum pulang kami disuguhkan makanan utama khas Buton dan Ambon (Indonesia Bagian Timur) yaitu Suami dan Papeda. Suami yang terbuat dari tepung singkong ini cukup padat teksturnya dan membuat kami sangat kenyang walaupun sedikit memakannya. Berbeda dengan Papeda, yang biasa kami lihat di televisi maupun di internet makanan tersebut sudah ada di depan kami dengan tekstur yang kenyal sempat berfikir mungkin rasanya agak aneh, tapi setelah kami icipi tidak buruk kok malah begitu enak saat di santap bersama ikan kuah kuning. Suatu saat pasti rindu sekali dengan makan – makanan ini.

makanan-khas-p-seram

Makanan khas Pulau Seram

Jam menunjukan pukul 12.30 WIT, hujan tak kunjung berhenti juga kami pun segera berpamitan dengan keluarga bang ikhsan dan tak hentinya kami mengucapkan terimakasih kepada keluarganya. Kami pun berjalan menuju pantai dan menaiki ketinting. Sekitar 45 menit kami menaiki kapal yang terbuat dari fiber tersebut, rasa rasanya kami menaiki kapal tersebut cukup membuat jantung berdebar lebih cepat di banding biasanya. Ombak yang cukup tinggi, membuat kapal tidak seimbang, terkadang terpikirkan jikalau kapal ini terbalik cukup tidak aman karena kami tidak menggunakan pengaman apapun dan laut tersebut adalah laut lepas.

perjalanan-pulang-katinting

Perjalanan menuju Tehoru dengan menggunakan katinting/Fiber

Jam 14.00 WIT kami tiba di tehoru, kami pun melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Otto/Angkot tapi kami ragu karena kapal berangkat pukul 15.00 WIT akhirnya kami memutuskan untuk menyebrang ke kota Ambon dengan menggunakan Kapal Ferry. Kami mendapatkan kapal pukul 23.30 WIT, Hade dan Tegar langsung menempatkan diri di dalam kapal sedangkan midy dengan nadira memutuskan untuk mencari angin di kapal bagian atas bersama bang ikhsan dan bang wandi. Kami meminum kopi dan memakan makanan ringan sambil menikmati angin malam di laut Ambon ini.

perjalanan-pulang-ferry

Perjalanan menuju Kota Ambon dengan menggunakan Kapal Ferry

Jumat, 5 Agustus 2016

Pukul 02.30 WIT, kami pun tiba di Pelabuhan Liang. Kami senang sekali melihat air laut sungguh jernih rasanya kami ingin berlama-lama disana. Nadira sontak berbicara “yuk camp disini yuk”, rasanya ingin   sekali   kami camp disana. Namun apa daya kondisi fisik kami tidak memungkinkan, mungkin di perjalanan selanjutnya kami dapat menikmati alam kota Ambon ini lagi. Kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke rumah kak cika dengan menggunakan Otto sekitar 1 jam kami pun tiba di rumah kak cika dan segera bergegas untuk istirahat.

Sabtu, 6 Agustus 2016

Seharusnya kami pulang hari ini, tapi kami reschedule di karena kan kondisi fisik kami yang masih belum membaik. Kami pun seharian penuh istirahat di rumah kak cika. Malam harinya kami meminta ditemani oleh kak cika, bang wandi dan bang ikhsan untuk wisata kuliner di daerah Ambon dan kami pun memutuskan untuk menyantap makanan hasil laut kota Ambon di dekat pasar Ambon, setelah itu kami berjalan menyusuri kota Ambon hingga pukul 11.00 WIT dan beristirahat kembali di kediaman rumah kak cika.

kuliner-ambon

Wisata Kuliner di Ambon

 

Minggu, 7 Agustus 2016

Tibalah waktunya untuk kembali ke pulau jawa, Hade kembali ke pulau jawa duluan karena jadwal pesawat kami berbeda. Ia berangkat pukul 06.00 WIT dengan diantar bang ikhsan. Setelah bang ikhsan kembali dari bandara, midy pun minta diantarkan membeli oleh oleh khas untuk kawan kawan di beskem PMPA VAGUS. Makanan ringan yang terbuat dari kenari dan sagu adalah khas kota Ambon, dikarenakan Indonesia Bagian Timur ini adalah saah satu penghasil sagu terbesar di Indonesia. Pukul 11.00 WIT, kami berpamitan dengan kak cika bang wandi dan bang ikhsan. Kami naik otto menuju bandara, karena jadwal pesawat kami pukul 16.00 WIT. Dengan kaki terpincang- pincang kami berjalan menuju ruang tunggu pesawat, banyak orang terheran-heran karena kaki kami di balut dengan perban hingga pada saat kami akan memasuki pesawat kami pun di tawari kursi roda oleh petugas . Di dalam pesawat kami pun istirahat lagi.

Tiba lah kami di bandara Djuanda Surabaya dengan selamat walaupun kaki kami sudah terlihat membengkak, kami pun memutuskan untuk memesan taxi karena kondisi kami tidak memungkinkan jika harus menaiki kendaraan umum lagi. Sampai di terminal bungur asih kami pun makan malam dan melanjutkan perjalanan ke solo dengan menggunakan bus.

Akhir kata, perjalanan ini merupakan perjalanan luar biasa yang tidak akan bisa terlaksana tanpa izin dari Allah SWT, dukungan dari PMPA VAGUS, Fakultas Kedokteran UNS, orangtua, bantuan dari caca Cika dan bang Ikhsan yang sudah memberikan tempat tinggal dan ikut membimbing selama perjalanan bersama Bang Wandi, Bang Miji, dan Bang Bob. Terimakasih kami ucapkan untuk semua pihak yang sudah membantu kelancaran ekspedisi ini. Perjalanan 7 hari 6 malam yang mengesankan ini akan tersimpan di lubuk hati kami dalam-dalam.

 


Lampiran

Rincian Perjalanan Jam Durasi Transportasi Harga
Surabaya- makassar 20.50 WIB-00.00 WITA Lion Air Rp.       2.150.000 (PP)
Makassar-Ambon 03.35 WITA-06.00 WITA
Pattimura-Kebon

Cengkeh

07.13 WITA-07.53 WITA 40 menit Angkot
Kebon   Cengkeh- Tulehu 07.15-08.10 55 menit Mobil
Tulehu-Amahai 09.04-11.01 1 jam 57 menit Kapal       Cepat

Cantika

Rp. 575.000
Amahai-Masohi 12.19-12.30 11 menit Otto/Angkot Rp. 550.000
Masohi-tehoru 13.54-16.08 2 jam 14 menit
Tehoru-Sungai

Kawanoa

16.08-16.40 32 menit
Menyebrang

sungai kawanoa

16.40-17.48 1   jam   8

menit

Katinting Rp. 100.000
Sungai   kawanoa-

Yaputih

17.48-18.00 11 menit Mobil
Yaputih-ayemoto 08.18-19.26 11 jam   8

menit

Ayemoto-

aiulanusalai

09.27-10.29 1   jam   2

menit

Aiulanusalai-

puncak teleuna

10.40-12.58 2 jam 18

menit

Puncak     teleuna-

highcamp

12.58-14.49 1 jam 51

menit

Highcamp-puncak

manukapa

09.42-12.18 2 jam 36

menit

Puncak manukapa-

isilali

12.18-13.00 42 menit
Isilali-puncak

bintang

13.30-18.20 4 jam 50

menit

Puncak     bintang-

nasapeha

11.26-12.22 56 menit
Nasapeha-

wayfuku

12.22-16.22 4 jam
Wayfuku-puncak 10 menit

*Pengeluaran biaya diatas termasuk biaya 1 tim binaiya (4orang) ditambah dengan subsidi orang yang mengantarkan kami*

 

Leave a Reply

PMPA VAGUS

Basement Gedung Baru FK UNS, Surakarta

Salam Lestari

T: +62
E: vagus@fk.uns.ac.id