Catatan Perjalanan Gunung Bukit Raya 2.278 mdpl

Perjalanan kami awali dengan dua dari kami berangkat dari Solo menuju Jakarta dengan kereta api Gaya Baru Malam Selatan pada pukul 16.08 pada 12 Agustus 2017 dari Stasiun Solo Purwosari. Kami tiba di Stasiun Pasar Senen Jakarta pada 04.00 pagi dan dijemput oleh teman kami yang bernama Facur. Setelah itu kami beristirahat sejenak di rumah Facur untuk menunggu flight kami menuju Pontianak.

Pukul 11.00 kami berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta untuk bertemu dengan rekan kami Hafiidh. Kami naik pesawat Lion Air JT-714 yang flight pada pukul 13.50, sampai di Bandara Internasional Supadio Pontiakan pada pukul 15.20. Disana kami langsung dijemput oleh ketiga rekan kami dari MAPA Politeknik Negeri Pontianak dan menuju ke Sekretariat MAPA Polnep.

Sekretariat MAPA Polnep terletak tidak jauh dari bandara dan memerlukan waktu sekitar sepuluh menit untuk menuju ke sana. Di Sekretariat MAPA kami disambut dengan baik dan ramah. Pada awalnya, kami berencana untuk langsung berangkat dengan menggunakan bus Damri, namun akhirnya kami memundurkan jadwal sehingga kami berangkat pada keesokan harinya dengan ditemani salah satu rekan MAPA Polnep.

Kami berangkat pada tanggal 14 Agustus 2017 pada pukul 19.00 dan sampai di Terminal Nangapinoh pada pukul 04.00 pagi keesokan harinya. Dari Terminal Nangapinoh kami dijemput dan ditemani oleh rekan dari Bang Beni (anak MAPA Polnep), dan diantarkan menuju Pelabuhan Nangapinoh yang terletak hanya sekitar lima menit dari pusat kota Nangapinoh. Pukul 08.30 kami berangkat menggunakan speedboat menuju Serawai, yang merupakan suatu desa pusat yang terletak di tepi Sungai Pinoh.

Kami tiba di Serawai pada pukul 12.00, lalu kami berganti sarana transportasi menjadi perahu klotok bersama barang-barang belanjaan masyarakat Rantau Malam yang berbelanja di Serawai.

Kami berangkat pada pukul 12.40 dengan melewati dua sungai, dimana sungai pertama merupakan sungai besar yang airnya berwarna cokelat dan di tepi kanan dan kirinya masih terdapat beberapa rumah dan desa warga. Tak jarang pula kami menemui sebuah mesin besar yang berada di tepian sungai, dimana mesin tersebut merupakan mesin untuk mencari emas. Sedangkan sungai kedua yang kami lewati masih berair jernih dan dikelilingi hutan-hutan yang masih sangat asri dengan bebatuan yang berjarak sangat mepet dengan dasar perahu kami.

Kami tiba di desa Rantau Malam pada pukul 17.15 dan langsung menuju rumah host kami yaitu Pak Sendang yang juga merupakan driver perahu klotok kami. Rencana awalnya, kami akan mengadakan ritual adat pada keesokan harinya, namun karena satu dan lain hal, maka kami memutuskan untuk melaksanakan ritual adat pada malam hari itu juga. Ritual adat ini membutuhkan ayam kampung putih dan salah satu rangkaiannya adalah ritual gigit golok.

Keesokan harinya tanggal 16 Agustus, kami berangkat dari Rantau Malam pada pukul 08.20. Perjalanan menuju Korong HP sebenarnya bisa dilewati dengan menggunakan ojek, sehingga treknya tidak terlalu berat namun agak berlumpur apabila turun hujan. Juga tidak ada pepohonan di pinggiran jalan, sehingga cuaca terasa sangat panas menyengat.

Kami tiba di Korong HP pada pukul 10.15, Korong HP bukan merupakan suatu pos dari Gunung Bukit Raya namun hanyalah suatu tempat beristirahat dimana terdapat sinyal handphone terakhir dan hanyalah berbentuk seperti suatu tempat berteduh di pinggir jalan bertanah. Sebelum sampai di Korong HP, kami juga sempat mengambil air minum di pinggir jalan dimana terdapat mata air kecil.

Kami kembali meneruskan perjalanan pada pukul 10.20 dimana kami mulai memasuki hutan yang cukup lebat dan cahaya matahari pun hanya mampu sedikit menembus. Pukul 12.15, kami tiba di Pos 1 Hulu Menyanoi, dimana sudah terdapat kayu-kayu yang disusun untuk tempat tidur serta jemuran. Sekitar 5 meter dari Pos 1 ini juga terdapat sungai yang berair sangat jernih. Perjalanan dari Korong HP menuju Pos 1 ini masih belum didapati banyak pacet, sehingga kami masih cukup tenang dan sempat beristirahat selama sepuluh menit.

Pada 12.25 untuk menuju pos selanjutnya, jalan yang dilewati menjadi hutan yang lebih lebat dan masih terdapat sangat banyak pohon-pohon besar. Setelah lima puluh menit berjalan, hujan turun cukup lebat, namun karena pepohonan yang cukup lebat sehingga air hanya sedikit yang menembus.

Sebenarnya, pada hari pertama kami memutuskan untuk sampai Pos 3, namun karena hujan serta Bang Beni hilang terlebih dahulu entah sudah di depan atau masih di belakang, kami memutuskan untuk berhenti sejenak di Pos 2 Sungai Mangan pada pukul 13.20. Sekitar lima meter dari pos ini, terdapat pula sungai jernih namun airnya berwarna kuning kemerahan, namun tetap bisa dikonsumsi. Di pos ini juga sudah tersedia kayu-kayu yang ditata seperti patok yang bisa digunakan sebagai tempat tidur jika digantungi dengan kain atau karung atau semacamnya.

Kami pun menunggu Bang Beni sekitar dua puluh menit dan akhirnya memutuskan untuk membangun tenda disini hingga keesokan harinya, karena di Gunung Bukit Raya ini tidak diperbolehkan untuk melakukan perjalanan malam menimbang jalur yang masih belum terlalu jelas dan pepohonan masih terlampau lebat.

Pos 2 tidak berhawa terlalu dingin dan pacet pun masih belum terlalu banyak, hanya ada beberapa yang menempel di kaki kami. Serta, saat malam masih dapat ditemukan banyak sekali kunang-kunang, namun langit tidak terlalu terlihat karena tertutup oleh lebatnya pepohonan.

Keesokan harinya, 17 Agustus kami kembali melanjutkan perjalanan dengan target sampai Pos 5. Kami memulai perjalanan pada pukul 10.00 karena kami bangun kesiangan. Trek dari Pos 2 menuju Pos 3 lumayan naik ditambah dengan hawa yang panas dan pacet mulai bernaung di sepatu kami dan bahkan sampai masuk ke dalam.

Setelah dua setengah jam perjalanan, pukul 12.30 kami tiba di Pos 3 Hulu Rabang yang bersebelahan dengan sungai yang sangat jernih dan segar. Sesampainya di pos ini, kami langsung mengecek ke dalam sepatu kami yang sudah diinvasi oleh banyak pacet. Mungkin karena masih kaget dan belum paham cara menangani pacet yang cukup susah untuk dilepaskan, serta kami juga masih kaget dengan kucuran darah dari pacet tersebut, kami menghabiskan sekitar 45 menit di pos ini. Kami juga makan roti dan salat di pos ini.

Pada 13.15 kami kembali melanjutkan perjalan menuju Pos 4 yang treknya juga cukup mendaki ditambah dengan pacet yang semakin menginvasi ke dalam kaos kaki kami dan bahkan sampai ke dalam celana dan baju beberapa rekan kami. Sepanjang jalan menuju Pos 4, kami juga kerap melewati batang pohon yang melintang. Pukul 14.45 kami tiba di Pos 4 Hulu Jelundung dengan kaki yang sudah berdarah-darah karena teman-teman pacet yang dengan bahagia menempel di kaki kami.

Pos 4 berbentuk seperti shelter yang berukuran 3 x 3 meter dan sekitar lima menit dari pos ini dapat ditemukan mata air bersih. Beruntungnya kami menemukan flysheet yang sudah terpasang dan beberapa logistik yang ditinggalkan di pos ini oleh pendaki sebelumnya, yang berarti kami berkesempatan bertemu rekan pendaki lain. Karena sejak dari desa Rantau Malam, kami tidak menemukan pendaki lain.

Di pos 4 ini kami menghabiskan sekitar sepuluh menit membersihkan dan menghentikan darah yang mengucur dari kaki rekan-rekan kami. Kami mengubah strategi perjalanan kami untuk menuju pos 5, dimana setiap beberapa menit kami akan berhenti dan mengecek ke dalam sepatu dan baju kami sehingga tidak ada berbelas-belas pacet yang menempel dengan bahagia. Ditambah dengan stamina yang sudah cukup terkuras dan batang-batang pohon melintang dengan trek yang juga mendaki.

Kami baru sampai di Pos 5 Linang pada pukul 17.55 ketika hari sudah gelap. Beruntungnya lagi, kami bertemu dengan salah satu pendaki perempuan yang mengaku kelelahan dan ditinggalkan rombongannya sehingga ia pun memutuskan untuk beristirahat di Pos 5 dengan porternya dan tanpa tenda. Sehingga kami pun berbagi tenda dengan Mbak Ivvy, beliau adalah seorang wanita yang sudah menamatkan 7 summits di Indonesia. Di Pos 5 ini juga terdapat mata air namun berjarak cukup jauh yakni sekitar sepuluh menit dan jalannya tidak cukup mendukung. Serta pacet pun sudah merajalela sehingga kami harus lebih waspada dan selalu menutup tenda kami agar tidak dimasuki oleh pacet.

Keesokan paginya, 18 Agustus kami melakukan perjalan summit attack kami. Dengan meninggalkan barang-barang logistik serta tenda kami di Pos 5 Linang, kami berangkat pada pukul 07.30. Jalan menuju puncak cukup berbeda dengan trek-trek sebelumnya, treknya lebih menanjak, batang-batang kayu yang melintang juga lebih banyak, serta pacet juga cukup banyak. Sebenarnya, kami dapat melewati Pos 6 namun kami memilih untuk melewati jalur lain dimana pacet sudah lebih berkurang namun treknya sangat dan lebih menanjak daripada sebelumnya sehingga stamina kami cukup terkuras ditambah lagi dengan jarak trek yang cukup jauh.

Setelah berjalan kurang lebih tiga jam dari Pos Linang, kami harus menaiki tebing yang hanya dibekali oleh pegangan dari rotan yang sepertinya sengaja dibuat oleh pendaki lain. Setelah melewati tebing tersebut, kami disuguhi dengan hutan lumut yang dipenuhi dengan lumut-lumut hijau muda serta tak jarang kami pun dapat menemui kantong semar. Bang Beni berkata bahwa sebenarnya saat itu hutan lumutnya belum berada di masa puncak keindahannya, namun kami sudah cukup puas dengan melihat lumut-lumut yang meneteskan air dan empuk tersebut.

Dua jam berlalu, treknya masih sama menanjaknya dan akhirnya kami pun sampai di Puncak Kakam pada 12.30. Puncaknya berbentuk seperti dataran yang sudah memasuki wilayah Kalimantan Tengah, di puncak juga terdapat dua bangunan rumah-rumahan yang digunakan warga desa sekitar Rantau Malam untuk tempat menghaturkan rasa syukur dengan cara meletakkan peralatan-peralatan rumah tangga di tempat tersebut. Disini kami juga menemukan satu tupai yang konon memang sejak dahulu dapat ditemui disini bersama satu tupai lainnya. Disini kami menghabiskan waktu cukup lama untuk berfoto-foto.

Akhirnya, pada 14.55 kami memutuskan untuk kembali turun menuju Linang agar tidak terlalu gelap saat sampai disana. Pada 17.20 kami pun sampai di Linang dan beristirahat.

19 Agustus kami mulai turun dari Pos 5 pukul 09.57 dan sampai di Pos 4 pada pukul 11.30. Karena sudah terbiasa dan sudah mengetahui teknik untuk membersihkan serta mencabut pacet, kami pun tidak menghabiskan waktu berlama-lama untuk istirahat dan meladeni pacet-pacet tersebut.

Pukul 11.40 kami melanjutkan perjalanan lagi dan sampai di Pos 3 pada pukul 12.50. Kami pun beristirahat sejenak dan salat di Pos 3 Hulu Rabang ini, rekan kami pun sempat ada yang keramas dengan air sungai yang mengalir tepat di sebelah pos ini. Pada 13.10 kami kembali melanjutkan perjalanan dan karena stamina yang sudah cukup terkuras, kami baru sampai di Pos 2 pada pukul 15.30 dan memutuskan untuk membangun dome di pos tersebut.

20 Agustus, hari terakhir berada di Gunung Bukit Raya, kami lebih sedikit santai karena perjalanan menuju peradaban terdekat, yakni Desa Rantau Malam sudah tidak terlalu jauh. Kami berangkat pada pukul 09.50 dan sampai di Pos 1 pada pukul 10.30. Beristirahat selama lima menit, dan kami kembali melanjutkan perjalanan untuk menjemput sinyal HP kami yang sudah memohon untuk ditemukan.

Satu jam dua puluh menit kami berjalan dan akhirnya sampai di Korong HP. Disini kami beristirahat dan menghubungi keluarga-keluarga kami di Solo untuk berkabar. Saat di Korong HP, cuaca masih sangat terik dan panas, namun di perjalanan menuju Desa Rantau Malam, hujan turun cukup deras. Dengan jalanan yang masih berupa tanah kuning, kami pun harus cukup meluangkan sedikit tenaga untuk memilih jalan yang tidak licin agar tidak terpeleset. Pukul 14.20 kami sampai di rumah

Pak Sendang dengan keadaan basah kuyup dan hujan masih turun dengan lebat. Kami pun dipersilahkan masuk, bersih-bersih diri, dan makan. Malam tersebut merupakan malam terakhir kami di Desa Rantau Malam yang kami habiskan dengan bercakap-cakap dengan warga sekitar yang berkumpul di rumah Pak Sendang, serta ada juga anak-anak yang menonton TV bersama-sama karena susahnya listrik di desa ini.

21 Agustus, mulailah perjalanan air kami dengan suguhan suara mesin klotok. Kami berangkat dari Rantau Malam pada 08.15 diantar oleh istri dan anak dari Pak Sendang. Pada 11.15, kami sampai di Serawai dan berganti dengan speedboat.

Pada 11.52 kami berangkat menuju Nangapinoh dengan speedboat dan tiba pukul 15.15. Kami memutuskan untuk membeli tiket bus menuju Pontianak pada hari tersebut, yang dimana hanya ada untuk pukul 19.00 atau 08.00 pagi.

Jam 17.30 pun kami sudah siap di Terminal Nangapinoh ditemani oleh rekan dari Bang Beni, yakni Kak Nita yang juga ikut menemani kami saat kami akan berangkat sebelumnya. Pukul 19.00 bus meluncur menuju Pontianak, dan kami tiba pukul 04.00 keesokan harinya di Pontianak.

Dari kiri ke kanan; Permadi Dwi Wicaksana (V.XXVII.010), Ilanie Fitroh Alamia (V.XXVII.007), Hafiidh Ilham (V.XXVII.005)

Video perjalanan kami:


Disunting oleh: Naurah Aletha (V.XXIX.012)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.