Catatan Perjalanan Carstensz Pyramid 4.884 mdpl

Tahun 2018, bertepatan dengan lustrum PMPA Vagus ketujuh dengan kata lain tahun ini Vagus genap berumur 35 tahun. Bertepatan dengan hal itu Vagus mengadakan program kerja 7 Summits Indonesia dimana di acara tersebut Vagus mengirimkan delegasi-delegasi terbaiknya untuk membawa bendera Vagus ke tujuh puncak tertinggi di Indonesia.

Tahun ini adalah tahun penutup ekspedisi 7 Summits Indonesia dengan tujuan akhir puncak tertinggi, terjauh, dan tersulit untuk didaki yaitu Gunung Carstenzs Pyramid di Pegunungan Jayawijaya di pulau Papua. Ekspedisi Carstenzs ini terbuka bagi seluruh anggota Vagus.

Hal ini membuat saya tertantang dan tertarik untuk mendaftar menjadi delegasi atletnya. Pendaftaran dibuka pada akhir tahun ini. Setelah memenuhi syarat dan mengikuti alur pendaftaran, saya terdaftar sebagai salah satu calon delegasi atlet. Tidak lama setelah itu, pengumuman delegasi atlet yang akan diberangkatkan dirilis dan saya diterima dalam seleksi awal bersama satu rekan Vagus lainnya.

Tahap selanjutnya adalah sesi latihan dan seleksi fisik. Kami dilatih dan diberikan materi-materi terkait dengan persiapan pendakian Carstenzs. Selama dua bulan lebih kami berlatih bersama saling meningkatkan kekuatan fisik serta mental guna menyiapkan ekspedisi tersebut.

Rencana awal dari panita kami akan diberangkatkan pada bulan Agustus. Namun karena satu dan lain hal, pendakian diundur sampai situasi memungkinkan. Kami tetap fokus latihan karena panitia mengimbau bahwa sewaktu-waktu kami bisa diberangkatkan.

Tidak ada hujan tidak ada angin tiba-tiba saya mendapat kabar bahwa empat hari lagi saya harus siap diberangkatkan ke Papua. Tetapi dari pihak panitia ternyata hanya dapat memberangkatkan satu orang atlet. Kebetulan partner saya berhalangan untuk dapat berangkat pada hari tersebut, dengan kata lain saya yang terpilih.

Segara saya menyiapkan barang yang akan dibawa ke Carstenzs untuk sekitar tujuh hari ke depan. Tak luput perihal keselamatan menjadi yang utama, dikarenakan gunung ini merupakan gunung es dengan ketinggian diatas empat ribu meter di atas permukaan laut sehingga peralatan harus sesuai dangan karakteristik gunung tersebut.

Empat hari setelah pemberitahuan pemberangkatan yaitu tepat pada tanggal 20 September 2018, saya berangkat menuju Papua. Pagi hari sebelum pemberangkatan, diadakan upacara pelepasan dan doa bersama di depan Gedung Pendidikan Dokter FK UNS.

Dari Jawa saya berangkat dengan teman dari Yogyakarta. Kami sepakat untuk terbang bersama menuju Timika, Papua dari Bandara Adi Sucipto Jogja. Dari Solo saya diantar teman-teman Vagus menggunakan Kereta Prameks menuju Jogja. Ditemani hujan yang membasahi kendaraan darat beroda besi ini kami meluncur menuju Stasiun Maguwoharjo.

Sampai disana kami sudah ditunggu Mas Andi teman saya yang kebetulan bisa mengantarkan saya ke Carstenzs. Kami terbang dengan maskapai Lion Air tujuan Timika dengan transit di Makassar dan Sorong. Kami terbang pukul 15.00 dan tiba di Timika keesokan harinya pada Jumat, 21 September.

Sampai di Bandara Mozes Kilangin, Timika

Singkat cerita kami tiba di Bandara Mozes Kilangin tepatnya di Timika, Papua. Sesampainya di sana kami disambut anggota Brimob Timika yang juga merupakan partner pendakian kami nantinya.

Dari bandara kami bersama dengan Brimob lanjut menuju Markas Komando Brimob Datasemen B Timika. Kemudian kami packing ulang dan mengecek perlengkapan dan peralatan pendakian. Setelah semua dirasa siap kami berangkat menuju check point pertama yaitu di kota Tembagapura PT. Freeport Indonesia.

Kami berangkat menggunakan kendaraan tambang four-wheel-drive land-rover yang sudah dimodifikasi dengan lapisan anti peluru dari Freeport. Mengingat situasi di Papua terutama di sekitaran Freeport sering terjadi penembakan. Saya, Mas Andi dan tiga anggota Brimob Timika yaitu Pak Rama, Pak Wahid dan Pak Korwa berangkat dari Mako pukul 14.00 WIT dengan estimasi perjalanan sampai Tembagapura 2800 mdpl sekitar empat jam perjalanan.

Perjalanan naik mobil

Di tengah perjalanan kami mendapat kendala pertama. Ban belakang sebelah kanan bocor sehingga kami harus mengganti ban di tengah jalan dengan suasana menegangkan dan was-was ada penyerangan. Maka kami secepat mungkin segera menyelesaikan penggantian ban. Tepat petang hari setelah maghrib kami tiba di kota Tembagapura, dan kami menginap sehari di sana. Pendakian dilanjutkan esok hari.

Pagi hari Sabtu, 22 September kami memulai perjalanan dari penginapan pukul 06.00 WIT dengan kendaraan yang sama. Perjalanan dilanjut menuju Stasiun cable-train Freeport.

Cable-train ini mengantarkan kami dari ketinggian tiga ribuan ke empat ribuan mdpl dengan waktu kurang dari tiga puluh menit. Di sinilah biasanya para pendaki dapat terkena AMS. Sesampai di pemberhentian akhir kami melanjutkan perjalanan dengan mobil jip menuju Zebra Wall melewati area pertambangan Freeport.

Zebra Wall adalah titik start kami memulai pendakian dengan berjalan kaki. Dari situ kami menuju ke basecamp danau-danau dengan estimasi perjalanan lima jam dengan medan yang cukup terjal dan juga bebatuan yang tajam khas gunung Carstenzs. Di sepanjang jalan menuju basecamp 4200 mdpl saya mendapati danau-danau indah dengan warna biru hijau toska khas gunung Carstenzs, ada sekitar enam danau yang saya jumpai di perjalanan menuju basecamp.

Berfoto di depan danau hijau biru toska

Ternyata kami tiba di basecamp lebih cepat dari yang kami perkirakan, dari estimasi lima jam kami dapat menempuhnya dengan tiga jam perjalanan. Di sinilah saya mulai merasakan gejala AMS yang mengejutkan saya sendiri, karena baru pertama kalinya saya kena gejala AMS. Kepala terasa pusing dan pandangan mulai tak fokus, tapi saya masih sanggup mengambil beberapa foto.

Imbauan untuk tidak meninggalkan sampah di Pegunungan Jayawijaya

Bergegas kami membangun dome karena langit mulai mendung. Dan benar saja tak lama setelah dome berdiri hujan pun turun. Hal yang mengejutkan adalah tidak hanya air yang jatuh dari langit tapi juga butir-butir es pun jatuh dan terpantau temperatur udara pada saat itu menunjukan 0⁰C pada jam tangan canggih punya Komandan Rama. Singkat cerita setelah kami mengisi perut kami bergegas istirahat mengingat besok akan melanjutkan pendakian pukul 00.00.

Oh, indah pemandangan

Minggu dini hari pukul 00.00 WIT 23 September kami melakukan persiapan pendakian menuju Puncak Carstenzs Pyramid 4884 mdpl. Dari sini kami sudah harus memakai peralatan pendakian untuk jumaring dan juga pakaian yang tahan air dan hangat. Ditambah dengan harness, helm, cowstail, jumar, descender, carabiner, headlamp, sepatu dan juga jaket gunung es tahan air.

Saat itu memang cuaca tidak cerah betul, pemberangkatan summit kami ditemani rintik gerimis. Kami berjalan lagi sekitar 45 menit menuju tebing start pendakian dengan jumaring.

Dalam pendakian ini banyak menggunakan otot-otot tangan mengingat kami harus jumaring menaiki tebing sejauh 1,5 km. Teknik dan pengetahuan tentang jumaring mutlak diperlukan di sini untuk keselamatan diri masing-masing, dan memilih lintasan yang benar mengingat tidak semua lintasan aman digunakan. Sayang sekali karena cuaca yang kurang bagus panorama sunrise kurang terlihat.

Berfoto dengan rekan pendakian di tengah perjalanan

Sepanjang jalan ini sudah dapat dijumpai salju yang menyelimuti permukaan tebing. Dan di tengah perjalanan salju turun, pemandangan yang baru pertama saya rasakan dihujani salju.

Tebing curam bersalju satu-satunya jalan menuju puncak

Kami harus menaiki tebing melewati rekahan dan juga jembatan yang terbuat dari sling baja untuk dapat mencapai puncaknya. Dengan terpaan hujan salju dan temperatur dingin saya harus tetap bertahan dan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mencapai Puncak Carstenzs.

Tibalah saya di Puncak Carstenzs Pyramid pukul 10.00 WIT, terbayar segala jerih payah dan ketakutan yang saya rasakan. Sungguh tidak menyangka saya bisa menginjakkan kaki di puncak tertinggi Indonesia setinggi 4884 mdpl.

Berfoto di Puncak Carstensz Pyramid 4.884 mdpl
Rekan-rekan pendakian Carstensz Pyramid

Setelah berfotoria dan menikmati puncak, kami bergegas turun karena kondisi cuaca yang semakin memburuk. Turun pun tidak bisa turun dengan berjalan biasa, tapi harus dengan rappelling.

Menurut saya sensasi turun lebih mengerikan ketimbang naiknya. Karena kita tidak tahu apa yang terjadi di bawah dan jika tidak berhati-hati tali bisa habis sebelum sampai pitch tanpa kita sadari dan bisa membuat kita terjatuh.

Kami sampai di camp kembali pukul 14.00. Kami berniat istirahat makan sebentar dan langsung melanjutkan turun, namun karena kondisi dan cuaca yang tidak mendukung maka kami memutuskan untuk turun esok hari.

Pagi hari 24 September, setelah sarapan kami bergegas packing dan turun. Pukul 08.00 WIT kami mulai berjalan turun, menuju Zebra Wall titik penjemputan mobil. Cukup waktu dua jam kami sudah tiba di titik penjemputan dan turun ke kota Tembagapura untuk mengambil barang-barang yang kami tinggalkan di penginapan.

Kemudian kami turun ke kota Timika pukul 14.00, beristirahat di Mako Brimob karena penerbangan menuju Jogja masih besok pagi. Singkat cerita esok hari 25 September kami packing dan bersiap menuju bandara Timika untuk pulang.

Kali ini penerbangan hanya transit di Makassar dengan maskapai Sriwijaya Air dengan penerbangan pukul 12.45 WIT sampai di Jogja pukul 20.30 WIB. Sampai di Jogja saya dijemput mobil dan pulang ke Solo.

Sesampainya di beskem Vagus pukul 22.00 WIB saya disambut dengan meriah oleh teman-teman dan dibuatkan acara syukuran kecil-kecilan. Sungguh bahagia itu sederhana.

Permadi Dwi Wicaksono
(V.XXVII.010)

Video perjalanan kami:


Ditulis oleh: Permadi Dwi W. (V.XXVII.010)
Disunting oleh: Naurah Aletha (V.XXIX.012)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.