Seperti yang sudah banyak dikabarkan di berbagai media, banjir bandang sedang melanda Ibukota kita, DKI Jakarta. Awalnya, anggota vagus yang berdomisili di Jakarta diminta untuk siaga terkait informasi banjir yang terjadi di banyak titik di Jakarta. Mereka diberikan nomor PMI dan SAR untuk dihubungi dan diminta untuk dapat membantu korban. Mereka sudah mulai melihat keadaan beberapa posko. Di sore hari yang sama, jarkom vagus berupa panggilan untuk memberikan bantuan terhadap korban banjir dibuat. Ada beberapa anggota vagus yang mengonfirmasi kesanggupan mereka untuk membantu. Sebelum itu, sudah ada yang mencari info seputar banjir Jakarta di social media seperti twitter. Dari situ, kami mendapatkan info bahwa BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) sedang merekrut relawan dan kami dihubungkan ke dr. Gatut. Kami juga mencari informasi dari UMRC, mapala UI, TBM UI, Medisar, dan OSIS SMA Negeri 8 Jakarta. Setelah mendapat cukup informasi, kami menyusun rencana kerja. Rencana kami pada awalnya: Jumat,18/01/2013 kami melakukan survei lokasi posko Bukit Duri dan memberikan bantuan logistik, Jumat sore menghadiri rapat kerja BSMI, Sabtu,19/01/2013 dan Minggu,20/01/2013 membantu TBM UI.

Hari pertama, sesuai rencana, tim kami yang terdiri dari empat orang berkumpul di depan SMP Negeri 115 untuk pergi ke posko Bukit Duri bersama-sama. Kami berusaha untuk terus berkontak dengan guru-guru SMA 8 di posko maupun OSIS SMA 8 yang ikut terlibat. Kami juga terus memantau info seputar keadaan posko dan logistik yang di-update di twitter. Dari pantauan, kami mendapatkan data pengungsi ada 38 kepala keluarga atau sekitar 76 orang dan 112 anak-anak. Selain itu, didapatkan informasi mengenai penyakit yang sering timbul meliputi flu, demam, diare, gatal-gatal, dan batuk. Kami membawa logistik berupa selimut, pakaian, minyak kayu putih, dan parasetamol.


Kami mendatangi dua posko di Bukit Duri. Pertama adalah posko PJKA, kami menyerahkan logistik kami disana dan menanyakan apa kebutuhan pengungsi yang belum terpenuhi. Dari para guru yang berjaga di posko, mereka mengatakan hanya roti yang belum terpenuhi dan sangat dibutuhkan oleh para pengungsi, untuk logistik yang lainnya sudah dapat terpenuhi. Kedua adalah posko Kompleks Garuda, untuk kesana kami harus rela menerobos banjir setinggi ±30 cm. Di posko, kami mendapati logistik yang sudah cukup dan pengaturan posko yang lebih terkoordinir. Di posko garuda kami bertemu teman-teman mapala IPB yang sudah ikut membantu dan kami juga melihat bantuan obat-obatan sebanyak dua kardus yang masih terbungkus rapi.

Hal yang sangat disayangkan adalah belum ada dokter yang berkunjung ke posko maupun tim bantuan medis yang dapat membantu pengungsi yang sakit atau mengkoordinir pembagian obat-obatan. Dan kendala kami di hari pertama ini adalah sulitnya mencari dokter atau TBM yang bisa kami ajak ke posko.

Untuk tim SAR petugas keamanan sudah ada di kedua posko yang kami kunjungi. PMI pun sudah mendirikan posko di dekat posko PJKA. Namun, terlihat lebih ke bantuan logistik daripada medis. Sehingga kami berpikiran untuk mendatangkan TBM atau dokter yang bisa memberikan bantuan ke pengungsi.

Setelah melihat langsung keadaan kedua posko tersebut, tim kami meninggalkan lokasi untuk membeli roti dan menyusun strategi. Karena keadaan kami yang tidak memungkinkan untuk memberikan bantuan secara mandiri, kami berusaha untuk menghubungi beberapa dokter yang kami kenal dan organisasi sosial yang terkait. Kendala kami di hari itu adalah minimnya persiapan kami karena informasi yang mendadak sehingga kami tidak membawa alat-alat kesehatan, obat yang mencukupi, maupun pakaian dinas lapangan kami.

Saat menyusun strategi, kami terus mencoba menghubungi BSMI, UMRC, mapala UI, maupun dokter-dokter. Awalnya, sulit sekali menghubungi mereka. Dokter yang kami hubungi pun tidak bisa menjawab panggilan kami untuk turun  karena sedang berada di luar kota. Untuk BSMI belum ada jawaban hingga siang hari. Sedangkan mapala dan BEM FK UI tidak bisa membantu karena sedang ada pergantian jabatan. Hal tersebut membuat kami bingung karena belum adanya koordinasi dengan pihak manapun membuat gerakan kami terhambat. Kami terus meminta saran kepada mbak Donda, selaku ketua divisi Tim Bantuan Medis Vagus periode ini terkait masalah tersebut. Mbak Donda memberi kabar bahwa UMRC tidak bisa membantu. Sebenarnya saat itu yang kami butuhkan adalah minimal satu dokter saja yang bisa bertanggung jawab untuk memberikan resep. Namun, untuk mendapatkan hal itu saja kami harus bersabar dan terus mencoba. Akhirnya kami memutuskan untuk menghubungi pak Dedi, koordinator posko garuda. Dari beliau, kami mendapatkan informasi bahwa posko sudah didatangi seorang dokter dari keduataan. Mengetahui hal tersebut, kami bergegas kembali ke posko. Di perjalanan, kami membeli obat-obatan sebagai tambahan dan logistik. Saat kami tiba di posko, dokter sudah pergi, tetapi beliau sudah memeriksa pengungsi, memberikan obat, mengatur obat. Kami berniat untuk mengunjungi posko yang lain karena merasa keadaaan di posko garuda dan PJKA sudah terkendali. Akhirnya kami menghubungi pihak BSMI kembali.

Saat kami sedang berusaha menghubungi pihak BSMI, kami mendapatkan info bahwa di Manggarai Utara membutuhkan bantuan karena banyaknya pengungsi dan keadaan posko yang memprihatinkan. Selain itu, permohonan pertolongan juga datang dari Jalan Kunir, Jakarta Barat. Kami juga mencoba menghubungi pengungsi atau pihak yang meminta bantuan di Jalan Kunir. Namun, mereka lebih membutuhkan bantuan evakuasi karena banyaknnya warga yang belum dievakuasi ketimbang bantuan medis. Sangat disayangkan, kami tidak bisa memenuhi panggilan tersebut karena kapabilitas anggota tim yang belum sampai kesana.

Saat kami terus berusaha menghubungi BSMI, kami sempat bertemu dengan seorang senior vagus dan juga merupakan pengembang vagus di tahun awal berdiri, dr. Kesuma. Beliau tinggal di Kompleks Garuda dan sedang mengunjungi posko saat itu. Setelah memperkenalkan diri kepada beliau, kami menceritakan maksud kedatangan kami dan beramah-tamah. Di sela percakapan kami, kami sempat lost contact dengan BSMI karena mereka tiba-tiba menjadi sulit dihubungi. Karena kami ingin cepat bergerak, kami memutuskan untuk bergerak sendiri dengan kemampuan yang ada jika BSMI tidak juga bisa dihubungi dan diajak berkoordinasi. Kami memutuskan untuk pergi ke Manggarai dan menolong sebisa kami di sana. Namun, syukurlah BSMI akhirnya menghubungi kami sebelum kami berangkat menuju lokasi. Kebetulan, pihak BSMI juga akan pergi ke Manggarai. Kami sepakat akhirnya untuk pergi bersama-sama. Sebelum pergi, kami meningaalkan catatan mengenai indikasi tiap obat di posko, mengatur obat, dan memisahkan obat yang memerlukan resep dokter. Setelah pamit dan menitipkan posko ke dr.Kesuma dan penjaga posko saat itu kami pergi ke Manggarai.

Sampai di posko Manggarai hari sudah gelap. Kami menunaikan ibadah terlebih dahulu sebelum beraksi. Keadaan pos pengobatan di posko saat itu sungguh berbeda dengan baksos-baksos yg pernah diadakan vagus.  Posko gelap gulita karena listrik mati. Sumber pencahayaan kami berasal dari lampu motor yang dibiarkan menyala dan dibariskan di depan pos pengobatan. Persiapan tim kurang memadai di hari pertama ini. Kami tidak membawa plastik obat, etiket,  maupun alat-alat vital sign. Kami menggunakan kertas yang dipotong untuk membungkus obat dan pasien hanya dianamnesis saja.  Pos kesehatan berakhir pukul 8 malam. Dan itulah hari pertama, banyak kendala yang dirasakan di hari pertama ini. Karena info yang mendadak, anggota tim tidak sempat mempersiapkan peralatan yang cukup sebelum terjun karena ada yang meninggalkannya di Solo. Kendala lain seperti koordinasi juga sulit dilakukan serta terbatasnya jumlah dan kemampuan tiap anggota tim membuat kami tidak bisa maksimal memberikan bantuan. Namun, kami sudah berusaha semampu kami.

Di hari kedua, koordinasi sudah terjalin sehingga lebih teratur dari awal. Kami juga sudah membawa alat dan perlengkapan yang kemarin tidak kami bawa. Namun, ada kesalahan kecil pada saat menyortir obat, kami tidak membawa obat yang sering diresepkan seperti CTM dan vit. C. Lokasi posko yang kami kunjungi di hari itu terletak di Kedoya, di Masjid lantai 2. Kami masih bekerja sama dengan BSMI juga ACT (Aksi Cepat Tanggap). Kami menyusuri gang yang digenangi banjir selutut kami. Air banjirnya cukup kotor ada bangkai tikus terapung ditengah perjalanan kami. Kami juga menemukan ular di lantai satu masjid.

Pasien yang kami temui pun menarik. Tidak seperti masyarakat Solo yang tidak banyak komentar, pasien di Kedoya terlihat tetap semangat walaupun banjir menerjang dan kebanyakan mereka suka berkomentar dan cerewet.

Ada kejadian tragis dan unik di hari kedua ini. Kami sedikit terkejut karena setelah pengobatan gratis selesai kami lakukan, ada anak laki-laki berumur sepuluh tahunan jatuh dari lantai dua masjid saat sedang bermain dan bercanda dengan temannya. Anak tersebut jatuh karena balkon masjid belum dipasangi pagar atau pembatas. Kami segera melihat dan menolongnya. Namun syukurlah anak itu tidak apa-apa karena jalanan banjir sehingga tidak langsung jatuh ke tanah. Pengobatan selesai pukul satu siang. Setelah sholat kami bersiap meninggalkan lokasi. Acara dilanjutkan dengan makan siang bersama BSMI di Pizza Hut dengan biaya diatanggung mereka. Kami menjalin link dengan mereka saat itu. Semoga dapat terjaga. Itulah hari kedua aksi TBM vagus untuk korban banjir Jakarta.

Penulis: Rizqa Febriliany (Diksar XXII)

Editor: Gisti Respati

2 Replies to “Catatan Perjalanan Tim Bantuan Medis PMPA Vagus untuk Banjir Jakarta”

  1. Salah satu masalah yang selalu terjadi adalah bencana yang melanda dan korban jiwa, mari tingkatkan kepedulian sosial, membantu dalam hal materi dan edukasi mengenai penggulangan untuk mereka yang tinggal di daerah rawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.