EPIDEMIOLOGI
Data World Health Organization (WHO), gigitan ular di dunia memakan korban hingga 4.5 juta orang setiap tahunnya. Jumlah tersebut mengakibatkan luka serius pada 2.7 juta pria, wanita dan anak-anak serta menghilangkan nyawa sekitar 125 ribu. Sementara itu banyak korban gigitan ular yang selamat yang kemudian mengalami kecacatan tubuh dan lumpuh. World Health Organization (2018) juga mencatat bahwa 4,5-5,4 juta kasus per tahun ini menjadi kasus tertinggi kategori Neglected Tropical Desease (NTD). Di Indonesia belum ada data yang pasti mengenai kasus gigitan ular. Data dari RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri didapatkan kasus gigitan ular sejak 2008-2013 adalah 63 kasus. Data yang didapatkan dari RSUD Pacitan selama kurun waktu 2009-2011 terdapat 88 kasus gigitan ular.

KLASIFIKASI
Komposisi bisa ular 90% terdiri dari protein. Masing-masing bisa memiliki lebih dari ratusan protein berbeda: enzim (meliputi 80-90% bisa viperidae dan 25-70% bisa elapidae), toksin polipeptida non-enzimatik, dan protein non-toksik, seperti faktor pertumbuhan saraf. Enzim pada bisa ular meliputi hidrolase digestif, hialuronidase, dan aktivator atau inaktivator proses fisiologis, seperti kininogenase. Sebagian besar bisa mengandung L-asam amino oksidase, fosfomono- dan diesterase, 5`- nukleotidase, DNAase, NAD- nukleosidase, fosfolipase A2, dan peptidase (Warrell 2010).

GEJALA TANDA

Keracunan gigitan ular pada manusia memiliki banyak efek potensial, namun hanya beberapa kategori yang memiliki klinis mayor yang signifikan, yaitu: (1) flasid paralisis; (2) miolisis sistemik; (3) koagulopati dan perdarahan; (4) kerusakan dan gangguan ginjal; (5) kardiotoksisitas; (6) kerusakan jaringan lokal pada daerah gigitan (White 2005). Pada kasus gigitan ular, 98% kasus menimbulkan nyeri tekan pada area gigitan, pembengkakan lokal menyebar, pembengkakan dan nyeri pada kelenjar getah bening perdarahan lokal persisten, memar, infeksi (pembengkakan, kemerahan, peningkatan suhu). Dalam kasus berat, akan luka gigitan akan berkembang menjadi bula dan jaringan nekrotik, serta muncul gejala sistemik berupa mual, muntah dan kelemahan otot atau kejang. (WHO, 2016). Korban yang didgigit ular akan menimbulkan gejala yang khas. Tingkat keparahan atau derajat keparahan envenomasi dibagi ke dalam empat kriteria yaitu derajat 1 (minor)=tidak ada gejala, derajat 2 (moderate)=gejala lokal (envenomasi ringan), derajat 3 (severe)=gejala berkembang ke daerah regional, derajat 4 (major)=gejala sistemik (Ahmad et al, 2008).

TATALAKSANA AWAL

Penanganan awal gigitan ular berdasarkan WHO (2016) adalah melakukan penilaian klinis, pemberian pertolongan pertama dan segera melakukan IMOBILISASI, SEGERA PANGGIL BANTUAN TENAGA KESEHATAN (PRE HOSPITAL),  resusitasi, penilaian klinis mendetail dan diagnosis, pemeriksaan laboratorium, pengobatan antivenom, pemantauan dan penanganan suportif dan terakhir adalah penanganan daerah gigitan (HOSPITAL)

Pemberian Imobiliasasi sangat direkomendasikan sebagai usaha untuk memperlambat sistemik absorpsi bisa. Prinsip utama dari pertolongan pertama pasca gigitan ular adalah usaha untuk memperlambat sistemik absorpsi bisa, menyelamatkan hidup dan mencegah komplikasi sebelum pasien mendapatkan layanan kesehatan, memantau gejala awal efek dari envenomasi yang membahayakan, mengatur transport pasien ke layanan kesehatan, dan yang paling penting adalah semua tindakan itu tidak membahayakan pasien atau menambah perburukan kondisi pasien (Luman dan Endang, 2016).

Cara   pemberian      pressure immobilization adalah Elastic bandage (15 cm) di pasang di seluruh panjang ektremitas yang tergigit dan distal ke proksimal. Tekanan perban yang direkomendasikan : Ekstermitas atas: 40-70 mmHg, Ekstremitas bawah 55-70 mmHg. Secara praktis, tekanan sudah cukup jika perban cukup ketat dan nyaman tetapi memungkinkan jari untuk bergerak (Parker and Meggs, 2018).

Dalam pertolongan pertama, tindakan tradisional pada bekas gigitan tidak direkomendasikan seperti menghisap, insisi, mengikat, massage, pemberian herbal dan topikal. Insisi dapat memperlambat penurunan pembengkakan dan      meningkatkan paparan mikroorganisme luar pada area luka (WHO, 2016). Tindakan lain yang harus dilakukan adalah Menyelamatkan hidup dan mencegah komplikasi. Memantau gejala awal. Mengatur transportasi pasien ke penyedia kesehatan (WHO, 2016). Perlakukan pada luka gigitan ular juga harus diperhatikan. Luka dibersihkan dengan normal saline baru setelah itu dengan imobilisasi. Penggunaan tourniquet dapat mengganggu aliran darah, dan pelepasan tourniquet dapat menyebabkan gangguan sistemik yang lebih besar (WHO, 2016).

REFERENSI

American Heart Association. Part 15. First Aid. Web-Based Integrated 2010  & 2015   American Heart Association and American Red Cross Guidelines for First Aid. Available online: https://eccguidelines.heart.org/index. php/circulation/aha-red-cross-first-aid-guidelines/part-15-first-aid/ (accessed on 20 Agustus 2018).

Ahmed SM, Ahmed M, Nadeem A, Mahajan J, Choudhary A & Pal J. (2008) Emergency treatment of a snake bite: Pearls from literature. J Emer Trauma Shock 1(2):97-105.

Avau B, Borra V, Vandekerckhove p, and De Buck E. (2016). The treatment of snake bites in a first aid setting: A systemaic review. PLOS Neglected Tropical   Disease. DOI:10.1371/journal.pntd.0005079.

Luman A., dan Endang. (2016). Gigitan ular berbisa. Divisi Penyakit Tropik dan infeksi. Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Luman A dan Endang. (2018). Gigitan ular Berbisa. Divisi Penyakit Tropik dan infeksi. Departeman Ilmu penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Medikanto AR, Silalahi LM, dan Suratni S. (2017). Viperidae snake bite: kasus serial. Berkal lmiah Kedokteran Duta Wacana. 2(2). Hal: 361-374.

Nursalam. (2011). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Edisi 2. Jakarta: Salemba.

Parker JC and Meggs   WJ.   (2018). First aid and pre-hospital management of venomous snakebites. Tropical Medicine and Infection Desease. 3(45).

Suryati I, Yuliano A, Bundo P. (2018). Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat dengan penanganan awal gigitan binatang. Prosiding Seminar Kesehatan Perintis E-ISSN: 2622-2256. 1(1).

Warrell DA.   (2010).   Guidelines   for the management of snake bites. World    Health Organization Regional Office for   South-East Asia

Wood D and Sartorius B. (2017). Classifying snakebite in South Africa: Validating a scoring system. SAMJ. 107(1).hal: 46-51.

World Health Organization (WHO). (2016). Guidlines for the Management of snakebites, 2nd edition. WHO Library Cataloguing- in- Publication data

World Health Organization (WHO). (2018). Global snakebite burden. Report by the Director-General. Seventy-First World Health Assembly.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.