Camera 360

Senin, 17 Februari 2014

PMPA VAGUS mendapatkan info bahwa SAR UNS akan turun ke lokasi bencana erupsi G­unung Kelud. Pak Agung, selaku Komandan Operasi dari SAR UNS meminta PMPA VAGUS untuk bergabung sebagai tim bantuan medis. Sore harinya, Nia dan Nina selaku perwakilan dari Vagus melakukan rapat koordinasi dengan pihak SAR UNS. Selain itu, kami juga mempersiapkan personil yang akan diberangkatkan ke daerah bencana. Hasil dari Rapat koordinasi tersebut, kami merencanakan untuk berangkat dari Solo pada hari Selasa, 18 Februari 2014. Operasi direncanakan berjalan 10 hari terhitung dari tim pertama berangkat ke daerah bencana. Dari rapat tersebut juga diketahui bahwa Tim dari SAR UNS sudah ada yang berangkat terlebih dahulu bersama satuan dari Grup 2 Kopassus untuk membuka jalan dan posko di sana. Informasi yang diterima bahwa posko yang didirikan berada di desa Puncu. Menanggapi hasil dari rapat tersebut, kami mempersiapkan logistik yang akan dibawa kesana, baik logistik pribadi, logistik yang akan di sumbangkan, maupun logistik berupa obat-obatan. Kami mendapatkan suplai obat dari beberapa donatur, dan suplai logistik dari rekan-rekan BEM dan Himpunan Mahasiswa. Setelah semua terbungkus dengan rapi, kami mulai menyiapkan kebutuhan pribadi kami. Karena informasi yang kami dapat minim, kami telah mempersiapkan untuk segala kemungkinan terburuk yang akan ditemui di sana.

 

Selasa, 18 Februari 2014

PMPA VAGUS mengirimkan sejumlah 9 orang anggotanya untuk turun membantu korban bencana erupsi gunung Kelud dibawah komando SAR UNS yang bekerja sama dengan Grup 2 Kopassus. Tim terdiri dari Zakia, Gagat, Tata, Fajar, Rusjaya, Pieter, Billy, Yolanda, dan Arum. Kami berangkat bersama SAR UNS menggunakan mobil menuju desa Puncu pada pukul 13.00. Setelah sampai di KUD desa Puncu pada pukul 21.00, kami selaku tim bantuan medis langsung di beri arahan untuk menemui dr. Chandra. Beliau adalah satu-satunya dokter Kopassus yang turun di operasi kali ini. Berbeda dari anggota satuan yang lain, Tim dari PMPA Vagus diberi komando secara langsung oleh dr. Chandra. Beliau bercerita terlebih dahulu mengenai apa-apa saja yang telah beliau lakukan dari hari pertama menginjakkan kaki di wilayah desa Puncu. Ternyata, Kopassus membagi personilnya menjadi dua tim, satu ditempatkan di desa Puncu dan satu nya lagi ditempatkan di Malang. Siang hari tadi, baru saja terjadi banjir lahar dingin yang menyebabkan jembatan putus dan anggota Kopassus sempat terisolir. Dr. Chandra bersama 4 orang divisi kesehatan dari Kopassus, yaitu Pak Imam, Pak Pusri, Pak Riyadi, dan Pak Ketut melakukan survey pada tanggal 15 Februari ke daerah Sukomoro dan Laharpang. Pada saat itu status Gunung Kelud masih waspada, tetapi ternyata banyak warga yang sudah kembali ke pemukimannya. Dusun Sukomoro terletak 7km dan Laharpang berjarak 5km dari puncak Kelud. Merupakan sebuah keputusan yang berani mengingat risiko yang banyak mengancam. Tetapi melihat fakta di lapangan, banyak warga yang sudah kembali ke pemukiman dengan keadaan rumah mereka hancur dan kondisi kesehatan yang memprihatinkan, Mayor Wahyu selaku Komandan Kopassus pada operasi kali ini memutuskan untuk mendirikan posko di Laharpang dan Sukomoro. Dr. Chandra dan anggota divisi kesehatan juga membuka posko kesehatan di Sukomoro dan Laharpang. Hanya karena keterbatasan personil, posko Laharpang sedikit terabaikan. Pada hari pertama, pasien yang datang ke posko mencapai 138 orang dan hari kedua mencapai 90 orang. Kasus yang ditemui juga bermacam-macam. Dr. Chandra menceritakan bahwa terdapat pasien yang mengalai decomp cordis dan harus segera dirujuk ke RS Pare. Selain itu, ada juga yang mengalami gangguang konversi ketika melihat rumahnya hancur, pasien lalu kejang-kejang. Dalam kondisi ini, keluarga pasien meminta untuk dirujuk walaupun dokter telah menjelaskan bahwa tidak perlu dirujuk. Pada akhirnya rumah sakit tidak menerima rujukan tersebut. Menurut dr. Chandra, penyakit tersering adalah ISPA dan luka-luka akibat terkena reruntuhan bangunan.

Setelah dr. Chandra menjelaskan banyak hal tentang hari-hari sebelumnya, kami dipersilahkan beristirahat untuk siap-siap melaksanakan tugas keesokan harinya.

 2014-02-19_16.05.33[1]

Rabu, 19 Februari 2014

Apel pagi dimulai jam 07.00. Kopassus selalu tepat waktu di setiap kegiatannya. Kami selaku tim medis khusus di briefing oleh dr. Chandra. Pertama, kami di bagi dalam dua tim, Tim 1 yaitu Gagat, Tata, Fajar, Rusjaya ditempatkan di Laharpang bersama Pak Riyadi dan Pak Ketut. Sisanya, sebagai Tim 2 ditempatkan di Sukomoro bersama dr. Chandra, Pak Imam, dan Pak Pusri. Sekitar jam 07.45 kami bergerak dari KUD menuju ke dusun Sukomoro. Rumah sekitar terlihat banyak yang mengalami kerusakan cukup parah. Sesampai di dusun Sukomoro, tim 2 langsung menempatkan diri di posko, sedangkan tim 1 menuju desa Laharpang menggunakan ambulance. Selain menjadi tim medis, Yolanda, Arum, dan Zakia membantu Sari dari SAR UNS yang juga merupakan lulusan FKIP UNS melakukan trauma healing pada anak-anak di sekitar dusun Sukomoro. Kegiatan ini berlangsung dari jak 09.00-10.00 setiap harinya. Pasien yang datang ke posko mencapai sekitar 100 orang pada hari itu. Kami membantu melakukan anamnesis, pengecekan tensi, dan pengambilan obat. Di posko Laharpang pasien yang datang lebih sedikit dikarenakan memang belum banyak warga yang pulang ke dusun Laharpang. Kasus yang ditemui paling banyak adalah ISPA. Selain itu terdapat luka akibat bangunan runtuh yang harus dilakukan penjahitan. Posko selesai pada pukul 20.00, sebelum kembali ke KUD seluruh anggota satuan melakukan evaluasi di posko kesehatan. Walaupun masih ada saja pasien yang datang ke posko untuk berobat. Beberapa orang dari divisi kesehatan menginap di posko untuk berjaga. Sisanya, pulang ke KUD untuk beristirahat.

 

Kamis, 20 Februari 2014

Pada hari ini pembagian tugas sama seperti hari sebelumnya. Senior kami, dr. Arif yang berposisi di Pare juga ikut turun di posko Laharpang. Kasus yang ditemui semakin beragam. Dari posko Laharpang, Gagat, S.Ked selaku pemeriksa mengkonsultasikan seorang anak yang diare keluar darah dan lendir selama satu bulan. Dr. Chandra meminta Gagat untuk melakukan Rectal Touche kepada anak tersebut dan didapatkan adanya lendir. Sehingga, untuk sementera diberikan antibiotik dan edukasi untuk menjaga kebersihan kepada anak dan orang tuanya. Selain itu, ada juga seorang kakek yang mengeluh tidak bisa menahan pipisnya. Setelah dr. Chandra melakukan rectal touche didapatkan prostat bapak tersebut membesar, sehingga dr. Chandra hanya bisa menyarankan untuk bapak tersebut segera ke rumah sakit. Tidak berapa lama, datang seorang nenek yang mengeluhkan sesak, dr. Chandra mendiagnosis nenek tersebut terkena PPOK. Dilakukan pemasangan oksigen dan pemberian bronkodilator. Beberapa kasus kejatuhan bangunan yang runtuh juga ditemukan dan harus dilakukan penjahitan. Tetapi, tetap yang terbanyak adalah ISPA.

2014-02-20_15.47.09[1]

Jumat, 21 Februari 2014

 

Dilakukan penggantian personil pada hari ini, Gagat, Tata, Fajar, Rusjaya, dan Arum kembali ke Solo dikarenakan ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Digantikan dengan dr. Iput, Mar’a, Nina, Nia, Hanif, dan Wahyu yang datang tepat pukul 04.00 pagi. Pembagian tim juga masih sama, tim yang baru datang semua di tempatkan di Laharpang.

Kasus pertama yang harus dirujuk adalah apendisitis akut. Dr. Iput selaku dokter di Laharpang mendapat laporan dari warga bahwa ada bapak yang kesakitan. Ternyata bapak tersebut rumahnya telah hancur, sehingga keluarga nya masih di pengungsian dan dia sendirian di rumahnya. Pada pemeriksaan pertama dr. Iput mengalami kesulitan karena semua palpasi yang dilakukan terhadap bapak tersebut mengalami kesakitan. Sehingga, dr. Iput memutuskan untuk memberikan spasminal. Setelah bapak tersebut lebih tenang, dr. Iput melakukan pemeriksaan ulang, didapatkan adanya nyeri tekan positif pada regio kanan bawah, dan juga nyeri pada saat kaki di fleksi kan. Dikarenakan jalan ke rumahnya yang sulit di akses. Ambulans yang berada di posko Sukomoro menjemput bapak tersebut ke Laharpang lalu di rujuk ke RS Pare. Pada siang harinya, terdapat pasien yang mengeluhkan nyeri dada dan sesak. Oleh dr. Chandra diberikan obat yang mengurangi beban kerja jantung dan menguatkan kontraksi jantung karna didiagnosis angina pectoris stable. Tetapi beberapa menit kemudian, istri dari bapak tersebut datang lagi ke posko dan meminta untuk diantarkan ke rumah sakit. Akhirnya Pak Pusri, Pak Imam, dan Yolanda mengantarkan bapak tersebut ke RS Pare.

 

Sabtu, 22 Februari 2014

Pembagian personil sedikit diubah, Zakia di posko Laharpang bertukar dengan Nina yang bertugas di Sukomoro. Dr. Arif juga ikut membantu di posko Sukomoro. Kasus yang ditemui diantaranya adalah patah tulang, terdapat dua kasus. Karena tidak terdapat bidai kayu yang bisa untuk mobilisasi. Maka, dr. Arif memutuskan untuk menggunakan kassa yang dililitkan setebal mungkin dan juga kardus untuk mencegah pergerakan dari tulnag tersebut. Lalu, pasien tersebut dirujuk ke RS Pare. Ada juga seorang nenek yang tidak makan selama di pengungsian dan mengaku tidak kunjung dijemput oleh keluarganya. Melihat kondisi nenek yang lemas, akhirnya diberikan lah dextrose 5% secara intravena.

 

Minggu, 23 Februari 2014

Hari ke-9 dari operasi satuan bencana kali ini. Jadwalnya adalah merubuhkan tenda dan menyerahkan ke satuan lain yang akan bertugas. Termasuk pula tim medis. Tetapi, para anggota Vagus yang pre klinik diharuskan pulang terlebih dulu dikarenakan harus menghadiri tutorial di hari Senin nya. Sehingga, tinggal dr. Iput dan dr. Arif yang berjaga di posko kesehatan.

 

Senin, 24 Februari 2014

Hari terakhir operasi, satuan berangkat dari desa Puncu sekitar jam 12.00 siang. Kami yang telah pulang lebih dulu menunggu di markas Kopassus grup 2 untuk ikut pembubaran satuan oleh komandan Grup 2 Kopassus. Pembubaran selesai sekitar pukul 19.00.

2014-02-20_09.51.19[1]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.