Triase Lapangan dengan Sistem Start

 

Pendahuluan
Triase berasal dari kata Perancis yang berarti membagi/mensortir, pertama kali digunakan oleh dokter perang (legiun dokter bedah pasukan Napoleon) ketika terjadi pertikaian antara Inggris dan Perancis pada abad 17. Sekarang triase adalah tata cara seleksi pasien berdasarkan kebutuhan pasien dalam rangka pengobatan yang ditentukan dengan pertimbangan tata cara pertolongan dengan sistem ABC (baik di lapangan atau di rumah sakit).
Triase lapangan agak berbeda dengan triase rumah sakit meliputi sistem seleksi pasien di lapangan oleh petugas dan evakuasi/transportasinya ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. Secara garis besar adalah menempatkan pasien dalam kategori-kategori prioritas untuk ditolong dan diangkut berdasarkan hebatnya cedera dan kegawatdaruratan medis sehingga dapat memilah mana yang lebih dahulu ditolong, diangkut atau bahkan ditinggalkan untuk sementara. Mengirim pasien dengan keadaan tertentu ke fasilitas kesehatan yang memadai sesuai dengan kondisi pasien merupakan tanggung jawab dari petugas lapangan.
Adalah tidak benar mengirim pasien dengan trauma berat ke fasilitas kesehatan yang tidak mempunyai tenaga dan sarana yang lengkap jika di sekitarnya ada fasilitas kesehatan yang lain yang lebih memadai, atau mengirim pasien dengan luka ringan ke fasilitas kesehatan yang canggih jika di sekitarnya ada fasilitas kesehatan yang lain yang lebih dekat dan sudah mampu menangani pasien tersebut. Untuk menghindari hal-hal tersebut maka perlu pegangan yang jelas bagi petugas lapangan mengenai kriteria-kriteria tindakan lapangan.

Prioritas Penanganan Pasien
1. Prioritas tertinggi (merah): artinya terancam jiwa atau anggota badannya (akan menjadi cacat), jika tidak mendapatkan pertolongan secepatnya.
2. Prioritas tinggi (kuning): artinya kurang mengancan jiwa atau anggota badannya (akan menjadi cacat), namun dapat ditunda pertolongan Misalnya luka bakar hebat dan pendarahan sedang.
3. Prioritas Sedang (hijau):artinya meskipun kondisinya dalam keadaan gawat tetapi ia tidak memerlukan tindakan segera. Misalnya Minor bleeding dan cedera jaringan lunak minor.
4 . Prioritas Terakhir (hitam): artinya pasien ada tanda-tanda telah meninggal.
? Tidak adanya respirasi dan denyut nadi >20 menit mulai kejadian (kecuali korban tenggelam atau korban hipotermi ektrim)
? Tidak adanya respirasi dan denyut nadi, serta trauma yang menyebabkan RKP tidak bisa dilakukan atau tidak efektif
? Dekapitasi (leher putus)
Dalam menangani pasien di lapangan, petugas lapangan harus bisa mengklasifikasikan kondisi pasien seperti di atas sehingga dapat ditetapkan prioritas penanganannya.
Untuk mempertimbangkan prioritas penanganan, perlu dilihat juga prognosis pasien yang akan ditangani, dan perhatikan pula aspek-aspek berikut: waktu evakuasi/transportasi pasien ke fasilitas kesehatan terdekat, sarana dan prasarana kesehatan yang ada, obat-obatan dan peralatan yang ada, dan sumber daya manusia.
Dalam perjalannya Triase Lapangan dikembangkan oleh Dinas Kebakaran Los Angles untuk mempermudah pertolongan dengan dengan “START (Simpel Triase Rapid Teartment) SYSTEM” yang dikenal dengan akronim RPM (Respirasi, Perfusi, Mental Status).

PROSEDUR RPM (Respirasi – Perfusi – Mental Status)
Sebelum memulai pemeriksaan Triase Officer memanggil/merespon korban didaerah bencana misalnya dengan kalimat;” yang bisa mendengarkan suara, mohon kemari!”. Korban yang bisa berjalan atau trauma ringan yang menuju arah suara diberi tanda hijau diamankan, TO baru memasuki daerah bahaya dan memulai prosedur RPM.

 

Respirasi
1. Semua pasien diperiksa rata-rata ventilasi dan adekuatnya
2. Jika pasien tidak bernapas, periksa apakah ada benda asing yang menyebabkan obstruksi dan ambil benda asing tersebut.
3. Reposisi kepala pasien
4. Jika prosedur di atas tidak membantu inisiasi napas (napas tetap -), tandai (TAG) warna hitam.
5. Jika pernapasan >30 / menit. Tandai (TAG) warna merah.
6. Jika pernapasan < 30/menit, jangan tandai teruskan pemeriksaan perfusi (sirkulasi darah
Perfusi
1. Cara termudah pemeriksaan perfusi adalah pengisian kapiler.
2. Jika >2 detk Tandai (TAG) warna merah
3. Jika < 2 detik jangan ditandai dilanjutkan pemeriksaan mental status
4. Jika pemeriksaan pengisian kapiler tidak ditemukan, palpas arteri radialis jika (-) biasanya tekanan sistolik < 80 mm Hg.
Tehnik kontrol pendarahan akan banyak digunakan misalnya dengan penekaan langsung dan peninggian ekstrimitas bawah.
Penggunaan Walking Wounded (orang dengan trauma ringan) untuk membantu mengontrol pendarahaan bagi diri pasien sendiri atau untuk pasien lain.
Mental Status
Penilaian mental status digunakan untuk pasien dimana respirasi dan perfusi adekuat. Untuk menilai, penolong meminta korban untuk mengikuti perintah sederhana seperti membuka/menutup mata.
1. Jika pasien tidak dapat mengikuti perintah ini, tandai (TAG) warna merah
2. Jika pasien dapat mengikuti perintah ini, tandai (TAG) warna kuning.

Yang perlu dingat Triase sisem Start dilakukan pada keadaab darurat dimanan korban sangat banyak dan angkutan terbatas, dalam Brady First Responder menyebut korban diatas 20 dan cuman ada 1 ambulan. Jadi kalau korban cuman 3 dan dapat diangkat semua (misalnya mobilnya ada 2) ya nggak usah ditriase. Kebanyakan dokter dan perawat masih bingung menyamakan Triase Rumah sakit dan Lapangan yang dibangun dari 2 dokrin yang berbeda dirumah sakit (Unit/Instalsi Gawat Darurat) “treatment” baru di “transport” ke intermediate/intensive care sedangkan dilapangan di”transport” (dipilih dan dibawa ke ambulan) sambil diberi “treatment”.
Kalau ada pertanyaan apakah first responder (awam terlatih) seperti KSR PMI, pecinta alam, pramuka, menwa dst harus bisa Triase. Jawabnya “Ya” kalau mereka mau disebut first aider/responder karena sebagai penolong harus siap menghadapi korban dalam jumlah masal sekalipun di daerah operasi SAR atau di daerah Bencana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.